Senin, 27 Juni 2022

Graduation Fashion Show Disiarkan Daring, FIK Ubaya Ingin Karya Mahasiswa Dikenal Luas

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Suasana fashion show yang pertama kali digelar secara daring oleh Universitas Surabaya. Foto: humas Ubaya

Graduation fashion show karya tugas akhir mahasiswa Program Studi Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya) terasa spesial tahun ini karena diadakan secara daring untuk pertama kalinya.

1ST Live Streaming Graduation Fashion Show 2021 bertajuk “Prelude” ini menampilkan busana karya 16 mahasiswa yang diperagakan oleh 48 model. Total ada 80 look yang ditampilkan dan disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube dan Instagram Official @graduationshow.ubaya, Sabtu (20/3/2021).

“Tahun ini FIK Ubaya mengusung tema Prelude. Busana yang dibuat oleh mahasiswa yaitu ready to wear yang terbagi menjadi dua tema kecil lagi yaitu 30 looks Considered Comfort untuk tren fashion Fall Winter dan 50 looks Homespun untuk tren fashion Spring Summer,” terang Hany Mustikasari, S.Sn penanggung jawab acara Graduation Fashion Show 2021.

Hany berharap karya desain mahasiswa FIK Ubaya dapat menjangkau masyarakat lebih luas dengan ditampilkan di media sosial.

Konsep desain yang diusung tahun ini ingin memberikan kesan calming, kenyamanan dan santai. Puluhan looks yang disuguhkan merupakan hasil karya serta kreativitas dari 16 mahasiswa yang mewajibkan masing-masing membuat lima rancangan busana beserta produk lifestyle mulai dari aksesories kepala hingga sepatu yang dikenakan. Rancangan busana tahun ini dibuat tidak hanya untuk dewasa tetapi juga anak-anak.

Jessica satu diantara desainer membuat koleksi bernama “Fixation”. Fixation berasal dari kata fiksasi yang memiliki arti tergila-gila atau kecanduan akan suatu hal. Hasil karya yang dibuat mahasiswi kelahiran Medan ini ingin menggambarkan perasaan dan kesan kecanduan seseorang yang menggunakan gadget dan media sosial. Jessica menyampaikan jika anak muda biasanya cenderung senang mengikuti tren di media sosial dan gaya berbusana influencer. Namun, mereka tidak menyadari jika tren fashion hanya berlangsung sementara kemudian hilang dan muncul kembali yang baru.

“Sebenarnya tren yang cepat berubah tersebut dapat merusak lingkungan karena banyaknya limbah industri tekstil yang terbuang. Industri tekstil menjadi peringkat kedua penyumbang polusi atau pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, karya desain saya menggunakan pakaian bekas guna mengurangi limbah tekstil,” kata Jessica.

Dalam fashion show tersebut, lima karya milik mahasiswi berusia 22 tahun ini terlihat didominasi dengan bahan pakaian bekas dari jeans. Teknik pembuatan karyanya yaitu upcycle yaitu kegiatan mengolah barang bekas menjadi barang bernilai tinggi.

Selain itu, Jessica juga menggunakan teknik cutting desain acak dilengkapi dengan detail berupa sulaman tangan. Jessica berpesan jika ingin menjadi seorang designer maka wajib memiliki konsep desain yang out of the box. Tidak hanya dilihat dari segi estetika tetapi mempunyai pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Berbeda dengan Jessica, Michelle Theodora menunjukkan koleksi miliknya bernama “Dichblency”. Dichblency diambil dari tiga kata yaitu dichromatic yang berarti dwi warna, bland bermakna lemah lembut, dan delinquency yang artinya jahat atau kejam.

Mahasiswi yang gemar travelling ini terinspirasi dari pencampuran antara tren fashion Spring Summer 2021 bertema Homespun dan sifat karakter pemain utama dalam film Black Swan. Hasil desain karyanya ingin menggambarkan sifat seseorang yang diwarnai dengan dua karakteristik bertolak belakang yaitu lemah lembut dan kejam. Oleh karena itu, dirinya memilih bahan pakaian, warna dan teknik cutting yang bisa menonjolkan kedua sifat tersebut.

Mahasiswi yang kerab disapa Michelle ini memilih bahan pakaian yang lembut dan warna putih untuk menggambarkan White Swan yang mewakili sisi lemah lembut serta rapuh. Sedangkan bahan pakaian kasar serta tebal dan warna hitam mencerminkan Black Swan yang memiliki sifat kejam tetapi berani. Michelle menuturkan bahwa tantangan dan kesulitan dirasakan ketika harus merealisasikan konsep desain serta pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat lewat karya desainnya.

“Setiap look ingin menonjolkan sifat manusia yang memiliki kepribadian ganda. Sebenarnya dari koleksi ini saya ingin menyampaikan pesan, sekarang kita hidup bersama dengan orang yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Jika ada masalah tentu tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama, kita perlu mengenal sifat dan karakter masing-masing. Jadi penting bagi kita untuk belajar menerima sifat dan karakter orang yang berbeda-beda itu,” jelas Michelle.

Selain menampilkan karya tugas akhir mahasiswa, terdapat 47 karya desain lainnya dibuat oleh mahasiswa FIK Ubaya yang tergabung dalam mata kuliah Local Content Design Project dan Evening Gown Design Project. Tidak hanya menampilkan karya, mahasiswa tingkat akhir juga bertugas menjadi panitia dalam pelaksanaan acara virtual sehingga pengalaman yang didapat menjadi bekal untuk menyelenggarakan fashion show sendiri.(tok/ras)

 

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 27 Juni 2022
27o
Kurs