Rabu, 25 Mei 2022

Teliti Resistensi Antimikroba, Pristiawan Jadi Dokter Spesialis Termuda FK Unair

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Pristiawan Navy Endraputra, dr., Sp.MK. bersama Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rabu(22/12/2021). Foto: Manda Roosa suarasurabaya.net

Pelantikan dokter Spesialis 1 dan  2 Angkatan Ke 139 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) yang digelar di aula FK Unair, Rabu (22/12/2021)  ternyata menyimpan sosok pemuda yang mencuri perhatian, dia adalah Pristiawan Navy Endraputra, dr., Sp.MK.

Pemuda berusia 28 tahun ini merupakan dokter spesialis FK Unair termuda Spesialis Mikrobiologi Klinik. Ia pun menuturkan perjuangannya selama menempuh pendidikan, masuk FK Unair di Tahun 2018 setelah menamatkan pendidikan S1 tepat waktu dan internship. Saat SMA ia juga masuk dalam kelas akselerasi sehingga tidak  ia bisa mendapatkan gelar spesialis di usia yang tergolong muda.

“Saya mengerjakan untuk penelitian S2 pada waktu semester tiga, sehingga pada waktu semester akhir hanya fokus pada ujian nasional saja. Selesai ujian sekarang bisa mengikuti pelantikan dokter spesialis ini” jelasnya.

Untuk materi tesisnya, ia mengangkat mengenai Antimicrobial Resistance (AMR) atau biasa dikenal dengan resistensi antimikroba.

Ia juga dipertemukan dengan dosen pembimbing yang suportif. Yang tak lain adalah Prof. Dr.Kuntaman, dr, MS, SpMK(K). Yang sejak awal pembimbingan kerap memberikan masukan membangun pada penelitiannya.

“Jadi topik penelitian saya adalah gen resistensi antimikroba yang ada di lingkungan air limbah rumah sakit,” paparnya.

dr Pristiawan menjelaskan, setelah proses air limbah di rumah sakit ditemukan bakteri-bakteri resisten. “Saya meneliti apakah di air limbah yang sudah diproses itu masih ditemukan apa tidak gen bakteri yang membawa resistensi,” jelasnya.

Dan  hasil penelitian  memang masih ditemukan bakteri yang masih hidup, namun beberapa kebanyakan sudah bersih. “Tapi di penelitian saya menemukan  satu dua masih ada,” jelasnya.

Dari temuan inilah dia memberikan saran dan masukan agar proses limbah rumah sakit harus dicek kembali apakah gen-gen penyebab resitensi itu masih ada di air limbah setelah diproses atau tidak.

“Kebanyakan hanya di cek bakteri yang hidup berapa banyak, kalau gen resistensi antbiotiknya biasanya masih jarang karena untuk melakukan pengecekan gen resistensi  harus melakukan PCR metode molukuler dan itu biayanya tidak murah dan sampai sekarang bukan metode  yang wajib dan rutin dilakukan,”  jelasnya.

Selepas dilantik ini, dokter Pristiawan akan mengabdi di daerah asalnya, Solo. Tepatnya di RSUD Dr. Moewardi.  Kecintaannya pada pendidikan juga mendorongnya untuk mengambil S3 di Belanda . Ia ingin mendalami ilmu tentang resistensi antimikroba.  “Harapan saya bisa ambil PhD di Belanda tetap di bidang AMR karena saya tertarik dengan bidang mikrobiologi,” pungkasnya.(man/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 25 Mei 2022
28o
Kurs