Sabtu, 21 Mei 2022

Badan Geologi: Kandungan Mineral di Lumpur Sidoarjo Jenis Litium dan Stronsium

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Wisata Lumpur Lapindo Sidoarjo (Lusi) di Porong, Sidoarjo, pada Rabu (18/5/2016) pukul 09:56 WIB. Foto: Netter Suara Surabaya

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan potensi mineral logam dari lumpur yang menyembur di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Eko Budi Lelono Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM mengatakan, yang banyak terkandung di lumpur Sidoarjo adalah Mineral Kritis (Critical Raw Material), yaitu Litium (Li) dan Stronsium (Sr).

“Potensi yang terkandung pada lumpur Sidoarjo adalah mineral-mineral yang termasuk Mineral Kritis (Critical Raw Material, CRM), yaitu Litium dengan kadar 99,26-280,46 ppm, dan Stronsium dengan kadar 255,44-650,49 ppm,” ujarnya kepada Suara Surabaya, Minggu (23/1/2022).

Menurutnya, Litium secara umum dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai listrik. Sementara Stronsium biasanya untuk bahan baku industri elektronik dan bisa juga dipakai untuk berbagai inovasi berteknologi tinggi.

Dari sisi ekonomi, lanjut Eko Budi, nilai Litium sangat tinggi terutama kalau dikaitkan dengan bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Litium sebagai bahan baku baterai sangat penting ketersediaannya di dalam negeri. Apalagi, pemerintah tengah berencana membangun industri kendaraan listrik nasional.

Dia menegaskan, Litium dan Stronsium tidak termasuk dalam kategori Logam Tanah Jarang yang menjadi incaran banyak negara sebagai sumber energi alternatif.

Berdasarkan hasil analisis laboratorium, kadar total Logam Tanah Jarang dari sampel lumpur di Sidoarjo tergolong rendah, dengan kadar tertinggi unsur Cerium.

“Litium dan Stronsium bukan termasuk Logam Tanah Jarang. Dari hasil analisis lab, kadar total Logam Tanah Jarang lumpur Sidoarjo dapat dikatakan cukup rendah,” imbuhnya.

Tapi, Eko Budi Lelono menjelaskan, data potensi mineral ekonomis dari lumpur Sidoarjo belum akurat karena masih menggunakan hasil penyelidikan tahap awal yang belum detail, dan sampelnya terbatas dari kedalaman dangkal sekitar lima meter.

Sehingga, masih diperlukan studi kelayakan lebih lanjut terkait nilai ekonomi dari lumpur Sidoarjo.

“Pada tahapan yang ada saat ini, hasil penyelidikan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan target area untuk penyelidikan potensi lanjutan. Data potensi Litium dan Stronsium yang ada baru pada cakupan area yang dilakukan pengeboran, area yang sampelnya dilakukan analisis laboratorium, dan baru sampai kedalaman lima meter. Namun, data ini dapat menjadi acuan awal keberadaan potensi Litium dan Stronsium pada keseluruhan area semburan lumpur Lapindo,” paparnya.

Studi karakterisasi serta ekstraksi Litium dan Stronsium dari lumpur Sidoarjo, kata Eko Budi Lelono, akan dilakukan Badan Geologi bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu Bara (Puslitbang tekMira).

Selain itu, pihaknya juga akan melibatkan sejumlah institusi penelitian lain, baik dari dalam mau pun luar negeri.

Di samping nilai ekonomi, Badan Geologi Kementerian ESDM juga terus fokus pada penanganan atau pengelolaan semburan lumpur di Sidoarjo untuk meminimalisir risiko keberadaannya (hazard to resources).

Sebelumnya, Eko Budi Lelono mengatakan ada potensi kandungan logam tanah jarang dan logam lainnya dari lumpur Sidoarjo berdasarkan hasil penyelidikan Badan Geologi Kementerian ESDM dari tahun 2020.

Menindaklanjuti temuan awal itu, Badan Geologi Kementerian ESDM mulai mengkaji lebih rinci pada tahun 2021, dan prosesnya masih berlangsung sampai sekarang.

Penyandang titel Doktor bidang Geologi dari University of London itu berharap, hasil pengkajian potensi mineral lumpur Sidoarjo rampung tahun ini, dan segera disampaikan kepada publik.(rid/iss)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 21 Mei 2022
28o
Kurs