Kamis, 8 Desember 2022

Ditetapkan Tersangka, Ketua Panpel Arema Minta Maaf

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Abdul Haris Ketua Panpel Arema vs Persebaya saat melakukan press conference di kantor manajemen Arema, pada Jumat (7/10/2022). Foto: Risky suarasurabaya.net

Abdul Haris ketua Panitia Pelaksana Pertandingan Arema yang ditetapkan tersangka oleh polisi atas tragedi Kanjuruhan, mengucapkan permohonan maaf pada Jumat (7/10/2022).

“Saya minta maaf kepada seluruh keluarga korban. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa menangani tragedi itu, karena tidak bisa menyelamatkan semuanya,” ucapnya dalam press conference di kantor manajemen Arema.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengatakan bahwa keponakannya yang masih duduk di bangku SMP juga meninggal dunia, akibat tragedi Kanjuruhan itu.

“Saya tidak mau ada kejadian itu (tragedi Kanjuruhan), tetapi terjadi,” tambahnya.

Ia mengatakan, dalam pertandingan pekan kesebelas liga 1 itu, ia sudah melengkapi surat izin keamanan hingga kesehatan.

Dalam pertandingan itu, ia juga mengatakan telah menyiapkan mobil ambulan dan tenaga medis.

Namun, setelah pertandingan yang dimulai pada pukul 20.00 WIB itu, berakhir dengan adanya tragedi kemanusiaan yang menyebabkan ratusan orang luka-luka dan meninggal dunia.

Pada kesempatan itu, ia mengaku salah dan siap mempertanggung-jawabkan kesalahannya sebagai ketua panpel yang dinilai lalai dalam menjalankan tugasnya di lapangan.

“Itu semua karena keterbatasan saya tidak bisa menangani dan menolong mereka, sehingga terjadi tragedi kemanusiaan,” ucapnya.

Sementara itu, terkait dengan gas air mata yang ditembakan oleh petugas keamanan di stadion. Ia menduga ada kandungan yang berbeda dalam gas air mata tersebut.

Menurutnya, karena gas air mata yang dirasakan saat Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 itu, berbeda dengan yang dirasakan pada 2018.

Karena pada tahun itu, sempat mengalami kejadian yang sama, yakni suporter masuk ke dalam lapangan dan polisi juga menembakkan gas air mata, dan dampak dari peristiwa itu, ada sebanyak 214 orang yang harus mendapatkan perawatan dan satu orang meninggal dunia.

“Saya mohon, atas dasar kemanusiaan, saya minta diperiksa gas air mata itu yang seperti apa. Itu tidak sama rasanya seperti tahun 2018,” tukasnya.(ris/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Muatan Truk Jatuh Menutup Lajur di Jalan Dupak

Menerjang Kemacetan di Jembatan Branjangan

Atap Teras Pendopo Gresik Roboh

Surabaya
Kamis, 8 Desember 2022
26o
Kurs