Sabtu, 25 Juni 2022

Karantina 13 Hari, Biaya Umrah Membengkak Jadi Rp40 Juta

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi haji. Foto: dok./suarasurabaya.net

Sebanyak 419 jamaah umrah asal Indonesia akhirnya bisa berangkat umrah setelah hampir dua tahun tertunda akibat pandemi Covid-19.

Namun, para jamaah tersebut harus membayar biaya dengan tarif yang jauh lebih mahal, dibanding biaya umrah sebelum pandemi tiba.

Rahmat Wicaksono Direktur travel haji dan umrah Mina Islami mengatakan, untuk jamaah umrah keberangkatan dari Surabaya, biaya yang dikenakan bisa mencapai Rp35 – Rp40 juta per jamaah.

Biaya ibadah umrah ini membengkak dikarenakan jamaah dikenai tambahan biaya operasional karantina selama 13 hari dan tes PCR yang dilakukan berkali-kali baik saat berangkat maupun pulang. Pengecekan ini dilakukan di tanah air dan saat berada di Saudi Arabia.

“Biaya menjadi sangat mahal karena ada 2 kali proses karantina, baik di Indonesia maupun di Saudi. Di Indonesia karantina 1 hari saat keberangkatan dan 7 hari saat kepulangan dan di Saudi 5 hari. Jadi total ada 13 hari karantina,” kata Rahmat kepada Radio Suara Surabaya, Senin (10/1/2022).

Baca juga: Pemberangkatan Jemaah Umrah Dibuka 8 Januari

Pihak travel sendiri memperkirakan, biaya ibadah umrah bagi jamaah yang berangkat dari Surabaya diperkirakan bertambah Rp8-10 juta menjadi Rp40 juta per keberangkatan. Sedangkan bagi jamaah di luar Surabaya atau di kawasan Indonesia Timur, kemungkinan biaya umrah akan jauh lebih membengkak.

Menurut Rahmat, peningkatan bisa dikarenakan pemerintah Indonesia masih memberlakukan sistem satu pintu bagi jamaah umrah, yakni dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta.

“Otomatis itu juga berisiko bagi kami warga non Jakarta, ketika ke Jakarta dulu lalu ada yang positif (covid), maka harus beli tiket pesawat PP (pulang pergi) ke Surabaya,” lanjutnya.

Selain berdampak langsung bagi calon jamaah, dampak masa pandemi ini juga dirasakan oleh pengusaha travel seperti Rahmat, karena masa umrah yang semakin lama.

“Kami keberatannya ada dua, biaya dan waktu. Waktu karena umrah menjadi di atas 20 hari. Kadang kita itu ada dana, nggak ada waktu. Ada waktu tapi nggak ada dana,” selorohnya.

Baca juga: Pertama Sejak Pandemi Covid-19, Akhirnya 419 Orang Bisa Berangkat Umrah

Meski terjadi peningkatan biaya umroh, namun kata Rahmat tidak mengurangi animo masyarakat yang ingin beribadah umrah. Di Mina Islami saja, ada sebanyak 500an lebih jamaah yang masuk dalam daftar antrean keberangkatan. Ratusan jamaah tersebut merupakan jamaah yang tertunda berangkat selama dua tahun karena pandemi Covid-19.

Belum lagi calon jamaah yang ingin berangkat umrah, namun harus menunda karena menunggu aturan pembukaan umrah dari pemerintah.

Sehingga, Rahmat menyebut, jika situasi pandemi kembali mereda dan keberangkatan jamaah umrah kembali normal, diperkirakan akan terjadi lonjakan jamaah umrah.

“Kemungkinan nanti bakal meledak, karena antara supply dan demand tidak seimbang. Khawatirnya, ternyata nanti kondisi sudah membaik dan minat jamaah untuk umrah banyak, tapi jumlah penerbangan yang kurang,” ungkapnya.

Baca juga: Indonesia Masuk Prioritas untuk Haji dan Umrah

Untuk saat ini saja, kata Rahmat, banyak maskapai yang mengurangi jadwal penerbangannya ke Arab Saudi selama pembatasan akibat pandemi Covid-19.

“Kalau hotel supply-nya masih banyak, yang kita belum tahu maskapai. Karena saat ini maskapai masih maju mundur. Begitu nanti aturan (pembatasan umrah) dicabut, sepertinya (maskapai) akan tidak mampu menampung,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya tetap menyambut positif upaya pemerintah untuk kembali memberangkatkan jamaah umrah ini.(tin/rst)

Berita Terkait

Surabaya
Sabtu, 25 Juni 2022
30o
Kurs