Minggu, 29 Januari 2023

Kenangan Seorang Ibu dari Tragedi Kanjuruhan, Masakan yang Tak Pernah Disantap

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Warga berdoa di patung Singa Tegar kawasan Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang dipenuhi karangan bunga, Senin (3/10/2022). Foto: Antara

Seorang ibu yang rumahnya berada di dalam gang kecil Jalan Wahid Hasyim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang tengah berduka.

Putri pertamanya yang menginjak usia remaja tak akan pernah lagi menapakkan kakinya di jalanan gang kecil itu, karena ia saat ini sudah bersama ratusan korban Tragedi Kanjuruhan lainnya di alam keabadian.

Masakan yang dimasakkan ibunya dengan penuh cinta dan kasih sayang, sesaat setelah dia berangkat ke Stadion Kanjuruhan tak pernah disantapnya.

BS (35 tahun) nama ibu yang dirundung duka itu mengambil air mineral untuk disuguhkan kepada tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Ia merupakan ibu dari Najwa Zalfa Abdillah (15 tahun) anak perempuan yang meninggal dunia akibat tragedi Kanjuruhan pada Sabtu 1 Oktober 2022.

Ia terlihat masih syok dengan kejadian lima hari yang lalu. Wajahnya sayu, tubuhnya lesu. Kamis (6/10/2022) siang itu ia menceritakan peristiwa yang membuat anaknya tiada.

Najwa merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia mempunyai adik perempuan yang berusia 13 tahun dan adik laki-laki yang usianya menginjak 3,5 tahun.

Sebelum berangkat ke stadion, ia sempat makan bersama di rumah dengan dua adiknya. Hingga pada pukul 18.00 WIB lebih, ia berangkat bersama teman-temannya untuk menonton Arema kontra Persebaya.

Tidak ada firasat apapun dari BS. Ia hanya merasakan sesak di dada pada malam hari. Badan terasa lelah dan tiba-tiba mengantuk berat.

Sebelumnya, ia sempat mencegah Najwa berangkat menonton pertandingan karena tidak bersama omnya. Namun karena Najwa sangat ingin menonton pertandingan di tribun dan sudah dibelikan tiket oleh temannya, BS mengizinkan Najwa untuk berangkat ke stadion.

BS bahkan menyempatkan memasak untuk Najwa, dengan harapan agar anak pertamanya bisa langsung makan sepulang dari stadion.

Namun masakan itu tak pernah dimakan anaknya lahap-lahap.

Tiba-tiba ia ketiduran dan sekitar pukul 02.00 WIB keesokan hari Minggu (2/10/2022) handphone-nya berdering. Ia mendapat panggilan telepon dari teman Najwa.

“Maaf tante, saya ndak bisa jaga Najwa,” ucap temannya dalam telepon.
Anakku opo’o? Anakku opo’o? (Anakku kenapa?)” tanya BS.
“Najwa tante, Najwa meninggal tante,” jawab temannya.

BS seketika syok. Ia tidak bisa lagi berkata-kata. Bersama suaminya, ia langsung menuju Klinik Teja Husada. Tempat di mana Najwa dilarikan dari Stadion Kanjuruhan.

“Dikira suami saya kecelakaan atau kena apa, soalnya kan nggak ada suporter Persebaya, nggak tahunya kena gas air mata,” ucapnya sedih.

“Di klinik itu, posisi anak saya sudah jejer-jejer sama orang banyak, ditutupin sama mukena. Saya lihat itu sudah merem, tapi tangan sama pipinya masih anget, tak pegang kakinya dingin. Tak peluk, tak cium, tak bacain Al-Fatihah,” ucapnya.

Ia juga menceritakan kondisi anaknya saat berada di Klinik yang berada di Malang itu.

“Mukanya itu sudah bintik-bintik, kayaknya karena gas air mata. Mulut sama hidung sudah ngeluarin cairan sama darah. Yang di hidung ada kayak cairan kuningnya,” tambahnya. Ia menyesali tindakan yang dilakukan oleh petugas keamanan terhadap anaknya.

Najwa meninggal tanpa identitas, karena belum mempunyai KTP. Suaminya mengambil jenazah Najwa dengan menunjukkan identitasnya agar bisa dibawa pulang.

“Waktu sampai di rumah, dibuka bajunya. Ternyata, ada lebam, di dada, di lutut, di paha, di betis, sama di bahu, bulat warna coklat keemasan. Padahal bajunya utuh. Kalau dipukul itu pasti lebam warna biru atau ungu, tapi itu tidak, itu kuning keemasan. Waktu itu saya pegang keras banget. Dan di tengah-tengah ada titik hitam satu terus kayak tanda plusnya,” jelasnya sembari mengernyitkan dahi. Ia merasa aneh atas apa yang dialami anaknya.

Waktu itu, tidak ada dokter yang menangani korban meninggal dunia saat ia bersama suaminya di klinik. Ia belum tahu pasti sebab anaknya mengalami lebam dan bekas kuning yang mengeras itu.

“Saya curiga kena tembak atau gimana, itu kok beda dari luka yang lain keras banget yang kuning itu kayak batu, di bahu. Yang lainya merah biru,” ucapnya sembari mengambil handphone dan menunjukkan foto luka di tubuh Najwa.

Ia masih merasa aneh, karena Najwa mengalami banyak luka, tetapi pakaian yang dikenakannya tidak ada sedikit pun yang sobek.

“Sempet mau divisum, tapi nggak wes soalnya kasihan anak saya,” ucapnya lirih.

Menurutnya, memang semua sudah ada takdirnya. Namun, ia meminta agar penembak gas air mata di stadion dapat diusut.

“Sudah cukup pengorbanan orang-orang yang meninggal sampai ratusan itu. Kalau masih tetap terjadi lagi kan sayang yang meninggal nggak salah,” tukasnya.

Ia berharap agar tragedi Kanjuruhan itu benar-benar diusut secara tuntas dan pelakunya dihukum. Menurutnya, agar tidak terjadi lagi kejadian seperti itu.(ris/dfn/ipg)

Berita Terkait