Kamis, 9 Februari 2023

Komnas Perempuan Sebut Kekerasan Seksual Diawali dari Cara Berpikir 

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Tangkapan layar - Alimatul Qibtiyah Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan Subkomisi Pendidikan dalam Seminar HUT Korpri ke-51 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (5/12/2022). Foto: Antara

Alimatul Qibtiyah Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan Subkomisi Pendidikan mengatakan, penyebab kekerasan termasuk kekerasan seksual diawali dari cara seseorang berpikir atau melihat orang lain.

“Penyebab kekerasan diawali dengan cara berpikir, kemudian membiarkan terjadinya kekerasan,” kata Alimatul dalam Seminar HUT Korpri ke-51 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (5/12/2022).

Seperti dikutip dari Antara, dalam hal kekerasan seksual, ia mengatakan hal itu terjadi karena beberapa orang berpikir bahwa laki-laki memang harus dilayani dan beranggapan bahwa sumber fitnah adalah harta, tahta, dan wanita.

Apalagi, kata dia, berdasarkan riset Infid, stereotip terhadap gender perempuan semakin memperlemah posisi korban perempuan dan sering kali memicu terjadinya victim blaming di mana korban yang malah dituduh bersalah.

Dari riset tersebut, 70 persen responden setuju bahwa perempuan diperkosa atau dilecehkan secara seksual karena gaya berpakaiannya yang terbuka.

“Tujuh puluh persen masih meyakini analogi kucing dan ikan asin, kucing mana yang tidak mau makan ketika ikan asinnya harum. Ini realitas masyarakat kita,” ujar Alimatul.

Untuk itu, agar dapat mencegah terjadinya kekerasan seksual, menurut Alimatul masyarakat harus mengubah struktur penyebab (redesigning) dan mental model (rethinking).

Redesigning, menurut dia, salah satunya dengan menerapkan kebijakan dan program pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (PPKS) serta melakukan pemantauan dan take down pada narasi-narasi yang menoleransi kekerasan seksual.

Sedangkan rethinking, kata dia, di antaranya menanamkan pemahaman bahwa wanita juga memiliki martabat kemanusiaan.

“Memikirkan misalnya perempuan itu adalah sama-sama al-karomah al-insaniyah, sama-sama punya martabat kemanusiaan. Sumber fitnah itu bukan harta, tahta, wanita, tapi harta, tahta, asmara, dan quota, karena laki-laki juga bisa jadi sumber fitnah,” ujar Alimatul.

“Kemudian tidak ada satupun ayat (mengatakan) kalau ada perempuan menggunakan baju provokatif maka lecehkanlah. Enggak ada. Dalam kitab suci, kalau terjadi seperti itu maka segera pulang ke rumah, tundukkan pandangan, atau berpuasalah. Sehingga sama sekali tidak dibolehkan penyalahan pada perempuan itu,” katanya.(ant/gat/ipg)

Berita Terkait