Rabu, 17 Juli 2024

Pemerintah Dorong Pertumbuhan Perusahaan Perintis di Sektor EBT

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Arifin Tasrif Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Foto: Antara. Foto: Kementerian ESDM

Dalam satu dekade terakhir, dunia global tengah menghadapi perubahan iklim. Berbagai kebijakan dan inisiatif telah dikembangkan untuk menghadapi tantangan ini. Namun, tetap dibutuhkan upaya lebih untuk memastikan transisi hijau yang cepat dan lingkungan global yang lebih bersih.

Dilansir dari esdm.go.id, Arifin Tasrif Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan salah satu upaya untuk mempercepat transisi energi adalah dengan mendorong pertumbuhan perusahaan perintis (Start Up) di sektor energi baru dan terbarukan (EBT).

Hal itu disampaikannya melalui Video Conference, gelaran APEC Workshop on Clean Energy Start-Ups Forum dengan tajuk “Advancing Market Reach and Business Growth” yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Selasa (13/12/2022).

“Beberapa tahun belakangan ini, konsep ‘Green Growth’ telah menjadi topik diskusi anggota ekonomi  Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) sebagai jalur pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. APEC Energy Working Group juga mempromosikan kemajuan energi bersih dan rendah karbon sebagai bagian dari Key Objective pada APEC Energy Working Group Strategic Plan 2019-2023,” tuturnya.

Arifin mengatakan Start Up dapat menjadi pelopor bagi generasi muda untuk menunjukkan kontribusi nyata pada sektor energi bersih.

Start Up energi bersih hadir dengan berbagai terobosan. Beberapa perusahaan membangun teknologi surya dan angin, serta pembiayaan proyek-proyek tersebut. Sementara Start Up yang lain menawarkan baterai yang efisien dan ramah lingkungan, atau mengeksplorasi potensi Micro Grid untuk memanfaatkan iklim lokal daerah setempat.

“Terdapat ribuan Start Up energi terbarukan. Start Up ini perlu berfokus pada teknologi, karena teknologi adalah Game Changer dalam menciptakan sistem energi yang berkelanjutan. Teknologi adalah kunci transisi energi dan pada akhirnya untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE). Maka dari itu kita perlu meningkatkan teknologi seluas-luasnya,” paparnya.

Selain itu, Arifin juga mengatakan inovasi harus selalu didorong dan disebarluaskan. Akses kepada penggunaan dan pemanfaatan teknologi harus dibuat lebih inklusif. Selanjutnya, akses ke teknologi yang terjangkau dan pembiayaan juga harus dieksplorasi secara masif.

Ada beberapa teknologi yang akan berperan besar dalam transisi energi di Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat seperti solar teknologi, termasuk juga sistem integrasi; Smart-Grid; Energy Storage; hidrogen; dan kendaraan listrik.

“Indonesia akan membangun 700 Giga Watt (GW) pembangkit EBT, berasal dari energi surya, angin, air, bioenergi, arus laut, panas bumi, dan nuklir. Kami juga akan mengembangkan unit pengolahan dan pemurnian mineral untuk meningkatkan nilai tambah mineral, seperti nikel dan kobalt yang akan dimanfaatkan memproduksi baterai untuk kendaraan dan storage,” terangnya.

Arifin juga menyampaikan Start Up energi bersih dan Emerging Business dipandang sebagai instrumen kunci yang diharapkan memiliki peran yang penting dalam percepatan pengembangan EBT.

“Saya berharap forum ini dapat menjadi hub dalam merevisi sistem energi kita dan memperkuat kolaborasi dan kerja sama dalam mencapai bisnis Start Up energi bersih yang berkelanjutan. Saya juga berharap para stakeholder dalam forum ini dapat menyusun rekomendasi kebijakan untuk mengakselerasi pertumbuhan Start Up energi bersih pada APEC Economies. Mengaktifkan dan mendukung pertumbuhan Start Up akan memajukan sektor energi di Asia Pasifik untuk mencapai target pada tahun 2030,” pungkas Arifin.

Workshop hari pertama menghadirkan narasumber Tjut Devi Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Arief Noerhidayat Comestoarra Bentarra Noesantarra, Budi Martokeosoemo Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Adhityani Putri Yayasan Indonesia Cerah, dan I Made Aditya Suryawidya Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI).

Sebagai informasi, Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) Workshop on Clean Energy Start-Ups Forum “Advancing Market Reach and Business Growth” diselenggarakan di Bali, 13-15 Desember 2022.

Tujuannya untuk menyediakan platform bagi Start Up energi bersih, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk berbagi ide dan pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas Start Up energi dan akan menghasilkan rekomendasi kebijakan sehingga secara kolaboratif dapat mempercepat pertumbuhan Start Up energi bersih di seluruh Indonesia.(rum/ipg)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Pipa PDAM Bocor, Lalu Lintas di Jalan Wonokromo Macet

Perahu Nelayan Terbakar di Lamongan

Surabaya
Rabu, 17 Juli 2024
27o
Kurs