Sabtu, 2 Maret 2024

Perencana Keuangan Tegaskan Arisan Bukan Tabungan Apalagi Investasi

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi penipuan.

Arisan online pada beberapa waktu terakhir marak diperbincangkan. Terlebih setelah terkuak beberapa kasus penipuan dengan modus arisan online yang mengatasnamakan investasi. Tak tanggung-tanggung, kerugian dari penipuan arisan online bisa mencapai miliaran rupiah.

Guntari Hudiwinarti Perencana Keuangan atau Financial Planner mengingatkan masyarakat untuk mempertimbangkan kembali tujuan awal mengikuti arisan. Karena menurut perempuan yang akrab disapa Ita tersebut, arisan bukanlah tabungan, apalagi investasi.

Jika arisan dianggap sebagai tabungan, faktanya arisan tidak bisa diambil setiap saat waktu peserta membutuhkan uang.

“Kalau niatnya untuk ditabung, itu untuk apa dulu. Suatu ketika misal saya butuh dana cepat, kalau arisan bisa ditarik apa nggak?,” kata Ita kepada Radio Suara Surabaya, Senin (7/3/2022).

“Kalau mau nabung ya ke tabungan atau tabungan emas. Ada sesuatu yang lebih jelas. Kalau arisan saya melihatnya lebih ke sosial,” tambahnya.

Menurut Ita, kegiatan sosial dalam hal ini adalah yang mana sekelompok orang yang mengikuti arisan, berkumpul dalam setiap periode tertentu, lalu mengundi arisan untuk mendapatkan giliran. Sehingga, arisan menjadi ajang berkumpul bukan dengan tujuan menabung apalagi investasi.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah tergiur dengan iming-iming arisan terutama arisan online, yang memberikan iming-iming keuntungan dengan biaya tinggi. Karena sejatinya, arisan adalah saat kita membayarkan sejumlah uang dalam periode tertentu dan mendapatkan jumlah yang sama dengan total yang kita bayarkan.

Maka, jika masyarakat mendapatkan tawaran arisan online dengan janji akan mendapatkan keuntungan besar, sudah sepatutnya masyarakat untuk lebih berhati-hati.

“Karena arisan nggak mungkin kalau menawarkan keuntungan yang sangat tinggi. Investasi itu ada kurun waktu tertentu, harus dilihat budget berapa dan yang akan didapat berapa,” tegasnya.

Ia menambahkan, “Arisan itu kita ngumpulin duit berapa, jelas uangnya berapa lalu dapat berapa. Kalau dapat uang lalu dijanjikan nggak bayar lagi itu pasti bohong”.

Menurut Ita, kebanyakan kasus penipuan arisan online yang mana para pesertanya bisa tidak saling kenal itu dikarenakan tergiur ajakan tanpa menelurusi sistem arisan tersebut.

“Motivasi arisan online biasanya ada yang ngajak, teman misalnya. Mereka merekrut sebanyak-banyaknya karena setiap orang yang direkrut dia mendapatkan poin dan semacamnya,” ujarnya.

Ita menjelaskan, sebaiknya masyarakat lebih memahami cara pengelolaan keuangan yang benar sehingga ada besaran anggaran yang jelas jika dialokasikan untuk investasi maupun tabungan.

“Begitu kita terima (uang), alokasikan pertama untuk zakat. Lalu kewajiban utang maksimal 35 persen. Lalu investasi 10 persen, dan asuransi 10 persen. Kalau sudah didahulukan, sisanya untuk kebutuhan rumah tangga,” ungkapnya.

Sebelumnya, beberapa kasus arisan bodong dibongkar polisi dan menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah. Di Banjarmasin, Briptu MS dan istrinya R ditetapkan sebagai tersangka karena teribat dalam kasus penipuan arisan bodong yang kerugiannya mencapai Rp6 miliar. RA telah menjadi bandar arisan online sejak tahun 2017 dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 200 orang.

Di Sumedang, MAW alias MN (23) juga diamankan polisi karena kasus arisan bodong dengan kerugian hingga Rp21 miliar. Ia menjalankan usaha arisan online tersebut sejak 4 tahun terakhir. MN mengaku dari arisan bodong tersebut ia sempat membeli satu aste rumah, mobil dan motor.

Kasus arisan bodong di Blora tak kalah mengejutkan. Kerugian dari penipuan ini mencapai angka fantastis yakni Rp45 miliar. N alias Lala terlibat kasus arisan online fiktif setelah ada 21 orang yang melapor ke polisi.(tin/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Sabtu, 2 Maret 2024
31o
Kurs