Kamis, 8 Desember 2022

Sampah Plastik Belanja Online di Surabaya Meningkat Sejak Pandemi

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi. Belanja daring.

Prof Joni Hermana Dosen Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menyebut berdasarkan kajian yang dilakukan ITS, sampah plastik yang dihasilkan selama pandemi Covid-19 mengalami peningkatan.

Sampah plastik di Surabaya selama pandemi Covid-19 memperoleh tambahan dari sektor penjualan online.

“Dari segi penanganan, Pemkot sudah mengeluarkan Perwali 16 Tahun 2022, tapi dalam kenyataannya hal tersebut efektifnya pada sistem penjualan yang offline seperti di outlet yang sudah tidak memakai plastik. Tetapi perubahan aktivitas akibat pandemi penjualan dilakukan secara online ternyata menambah jumlah sampah plastik. Kita bocornya di online,” kata Joni Hermana saat mengudara dalam program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (30/9/2022).

Mantan Rektor ITS ini pun meminta pihak yang berwenang untuk memperhatikan secara serius regulasi terkait sampah plastik, karena limbah satu ini dikenal sebagai zat yang tidak mudah terurai hingga ratusan tahun dan tidak ramah lingkungan.

Joni juga mengusulkan agar penggunaan plastik melalui penjualan online bisa dikurangi melalui berbagai cara, bukan hanya dengan mencegah timbulnya sampah tapi juga pengelolaannya. Agar selaras dengan upaya pemerintah pusat yang sudah mencanangkan pengurangan sampah plastik hingga 70 persen pada tahun 2025

“Tahapan penghilangan hingga 70 persen di antaranya melakukan terobosan agar sampah menjadi ramah lingkungan. Tempat sampah yang khusus sampah plastik diperbanyak agar masyarakat teredukasi untuk memisahkan plastik dari sampah makanan,” usulnya.

Sementara Agus Hebi Djuniantoro Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya dalam kesempatan yang sama mengatakan, sesuai Perwali Nomor 16 Tahun 2022 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik di Kota Surabaya, kantong plastik yang dimaksud dalam peraturan ini adalah yang memiliki pegangan.

“Kalau wadah plastik masih diperbolehkan. Wadah ini untuk tempat makanan dan berkuah, masih diperlukan. Kan ini bisa berulang, tapi kalau kantong plastik sekali pakai kemudian buang,” kata Hebi.

Ia juga mengaku sudah menyosialisasikan ini kepada driver ojek online (ojol) dan restoran di Kota Surabaya untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Untuk ojol sebenarnya sudah disosialisasikan yuk mari membangun Kota Surabaya lebih baik dengan cara mengurangi sampah sekali pakai. Ke restoran yang masih menggunakan kantong plastik, tidak menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang, kita beri surat teguran,” tegas Hebi.

Hebi mengeklaim sampah plastik di Surabaya berkurang sejak diundangkannya Perwali ini berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo).

“Hasil survei evaluasi Perwali berdasarkan koordinasi kita dengan Apkrindo dari 200 lebih anggota mereka, kita ada pengurangan sekitar 0,6 ton sampah plastik per hari. Artinya ini efektif tapi masih belum tersentuh yang di pasar, paket-paket online,” ujarnya.

Prof Suparto Wijoyo Pakar Hukum Lingkungan Universitas Airlangga menyampaikan, perlu seruan moral yang lebih keras agar sampah plastik di Kota Pahlawan bisa berkurang drastis.

“Harus ada kesadaran bahwa beban kota ini akibat sampah plastik sudah serius. Artinya beban moral kita, tidak elok sebagai warga kota yang punya keerdasan lingkungan membiarkan perilaku penjualan online yang berbasis plastik secara moral. Seruan moral ini kemudian ditindaklanjuti dengan pemerintah kota dalam peraturan wali kota agar seluruh layanan online diberi basis hukum agar tidak memakai plastik sebagai bungkus,” pungkasnya.(dfn/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Muatan Truk Jatuh Menutup Lajur di Jalan Dupak

Menerjang Kemacetan di Jembatan Branjangan

Atap Teras Pendopo Gresik Roboh

Surabaya
Kamis, 8 Desember 2022
27o
Kurs