Rabu, 1 Februari 2023

Tiga Isu Prioritas G20 Menunjukkan Tekad Indonesia untuk Berkontribusi Secara Global

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi KTT G20 Bali. Foto: Grafis suarasurabaya.net

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang dihadiri oleh para pemimpin dunia sedang berlangsung di Bali mulai 15-16 November 2022.

Dalam konferensi tersebut ada tiga isu prioritas yang dibicarakan yaitu transisi energi berkelanjutan, transformasi digital, dan arsitektur kesehatan global.

Menurut Vinsensio Dugis Kepala Prodi (Kaprodi) Magister Hubungan Internasional Universitas Airlangga, diangkatnya tiga tema ini menunjukkan tekad besar Indonesia dalam memberikan kontribusi dalam hal tersebut untuk dunia.

“Seperti kita ketahui banyak harapan yang ditujukan kepada kita. Saya kira kita juga perlu realistis dengan posisi kita untuk kemudian berkontribusi untuk harapan global,” tuturnya saat mengudara di Radio Suara Surabaya, Selasa (15/11/2022).

Ia juga menjelaskan kaitan tiga isu prioritas yang diangkat dalam G20 dengan keadaan internasional saat ini.

“Menguatkan arsitektur kesehatan global, saya kira pandemi Covid-19 mengekspos betapa tata kelola kesehatan itu tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Saya kira G20 ini menjadi momentum penting walaupun tidak akan memberikan hasil konkret. Tapi karena tekad 20 kekuatan besar ini lah yang mewakili 20 persen populasi dunia,”

Kemudian Dugis melanjutkan yang kedua, yakni transformasi digital di mana seluruh kegiatan ekonomi sudah memasuki mode-mode digital, termasuk juga pendidikan seperti perkuliahan yang dilakukan secara daring (online).

“Lalu yang ketiga transisi energi. Ancaman kerusakan lingkungan tak memungkiri bahwa kita memang harus memberi perhatian yang lebih kepada energi yang diperbaharui,” lanjutnya.

Dugis mengatakan bahwa ketiga hal tersebut menjadi isu kepeduliaan bersama, di mana pun dan kapan pun.

Selain itu, Kaprodi Magister HI Unair ini juga mengingatkan meski ketiga tema tersebut sesuai dengan yang dihadapi dunia saat ini, namun perang antara Rusia dan Ukraina masih menjadi ancaman besar. Terlebih ada kompetisi atau persaingan sengit antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

“Padahal masih ada agenda lain, yakni isu kesetaraan global. Jadi negara-negara berkembang tentu tidak akan keluar dari situasi yang ada jika bantuan atau kekuatan di G20 belum diubah,” ujarnya.(rum/dfn)

Berita Terkait