Senin, 30 Januari 2023

Wisma Jerman Gelar Kompetisi dan Pameran Fotografi Khas Indonesia

Laporan oleh Retha Yuniar
Bagikan
Salah satu pengunjung saat menikmati pameran fotografi di Wisma Jerman, Sabtu (16/7/2022) Foto : Retha Yuniar suarasurabaya.net

Wisma Jerman Indonesia di Kota Surabaya, menggelar kompetisi dan pameran fotografi karya anak bangsa pada 16 sampai dengan 26 Juli 2022. Dalam kompetisi tersebut, Wisma Jerman menggandeng Mamuk Ismuntoro, Beki Subeki, Agatha Bunanta, tiga fotografer senior dan dua Dewan Juri lainnya untuk mengkurasi tiga karya diantara 10 hasil fotografi terbaik dengan tema “Tradisi dan Kemajuan Indonesia”.

10 hasil foto terbaik ini, terpajang dan bisa dinikmati khalayak umum secara GRATIS di pameran foto yang digelar Wisma Jerman.

Mamuk Ismuntoro salah satu Dewan Juri menuturkan bahwa Pemilihan juara satu ini cukup selektif, dan harus melalui beberapa tahap penjurian serta perdebatan positif antar juri.

“Pilihannya jadi sulit setelah terpilih 10 karya terbaik dari 300 lainnya. Karena sebuah karya foto selalu memiliki elemen yang tidak dimiliki oleh foto lain,” kata Mamuk, Sabtu (16/7/2022).

Mamuk Ismuntoro salah satu Dewan Juri saat menjelaskan proses penjurian, Sabtu (16/7/2022) Foto : Retha Yuniar suarasurabaya.net

Akhirnya, karya bertema Andong Modern milik Satya Wijaya fotografer, terpilih menjadi juara satu karena dinilai memiliki pesan yang mengandung elemen tradisional sekaligus modern. Karya tersebut dinilai berhasil menyandingkan dua unsur kontradiktif itu secara harmonis dalam sebuah frame.

“Saya memilih karya ini karena sangat relate dengan masa kini. Bagaimana tidak, karya tersebut digambarkan dengan penggunaan smartphone dan pembayaran non tunai saat menaiki Andong tradisional,” uarainya menjelaskan.

Andong memiliki konsep keindonesiaan yang kuat, didukung kusir yang menggunakan blangkon dan Baju Jawa. Foto ini menyiratkan unsur tradisional dan budaya Indonesia sekaligus modernitas saat penumpang membayar ongkos andong menggunakan QR Code.

Sebuah karya fotografi, kata Mamuk, selain dipilih karena kualitas visual, juga dinilai dari aspek konsep dan pesan yang ingin disampaikan dari balik sebuah karya. Sementara dari segi teknik, dia menyampaikan apresiasinya karena foto ini dilengkapi control eksposure yang baik.

“Gradasi senja tapi biru. Secara kualitas visual foto ini kuat tapi unsur pesan dibaliknya juga tidak kalah menarik,” katanya.

Karya bertema Andong Modern milik Satya Wijaya fotografer, terpilih menjadi juara satu, Sabtu (16/7/2022). Foto: Retha Yuniar suarasurabaya.net

Sementara juara kedua dimenangkan hasil jepretan Immanuel, seorang full time fotografer asal Jakarta. Karya bertajuk ‘Tradisional di tarik Modern’ menggambarkan pasangan yang sedang menarik gerobak menggunakan motor dengan latar belakang blur yang terlihat dinamis.

“Saya mengambilnya sekitar pukul setengah lima sore. Di bilangan Gunungsari Jakarta,” ujar Immanuel secara daring saat acara berlangsung.

Objek gerak itu ditangkapnya, setelah melakukan observasi beberapa hari sebelumnya. “Saya sengaja tunggu,” kata dia.

Immanuel mengungkapkan, jika tidak mudah untuk menyandingkan konsep tradisional dan modern secara harmonis dalam satu tangkapan layar.

Tak hanya dua potret terbaik, Wisma Jerman dalam pameran nya juga memajang 10 foto terbaik yang menyuguhkan potret Indonesia masa kini yang hidup bertransisi. Perwakilan unsur tradisional yang mengandung sejarah dan unsur modern yang futuristik.

Christopher Cokro Setyo, Konsul Kehormatan Wisma Jerman menyatakan dukungannya untuk membangkitkan kembali kesenian pascapandemi.

“Wisma Jerman mendukung kebangkitan kesenian di Indonesia. Kompetisi fotografi ini digelar sebagai serangkaian acara dalam memperingati tahun ke-sepuluh Wisma Jerman hadir di Surabaya,” jelasnya. (tha/bil)

Berita Terkait