Senin, 27 Mei 2024

Belasan Siswa SMK di Surabaya Olah Limbah Kulit Sapi Jadi Merchandise

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Proses perekatan limbah kulit sapi jadi merchandise gantungan kunci, Jumat (20/10/2023). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Belasan siswa-siswi SMK di Surabaya mengolah limbah kulit sapi jenis smooth grain jadi sejumlah merchandise pameran.

Potongan limbah kulit sapi berjumlah total 40 feet atau sekitar 12 meter itu diolah jadi 200 produk merchandise berupa gantungan kunci.

Firmansyah Kepala Jurusan Kriya Kulit SMK Negeri 12 Surabaya menyebut, hanya butuh waktu maksimal tiga hari untuk membentuk potongan model gantungan kunci. Pengerjaan melibatkan 18 dari 31 siswa dalam proyek merchandise.

“Prosesnya bisa cepat ketika prototipe (produk contoh) dapat approval (persetujuan) dari industri. Biar bisa cepat kita pesan pisau pond dan jadi cepat motong untuk 100 produk dalam satu hari. Jadi kalau dua jenis produk bisa dua sampai tiga hari untuk proses potong,” jelas Firmansyah ditemui suarasurabaya.net, Jumat (20/10/2023).

Produk gantungan kunci dinilai yang paling mudah dibuat dibandingkan karya wajib lain para siswa. Menurutnya industri dan market yang disasar paling banyak memang produk nonalas kaki dan nonbusana.

“Ada tas, sepatu, dompet, merchandise kecil boneka, gantungan kunci. Yang paling banyak produk nonalas kaki dan nonbusana karena target indsutri dan target market sekitar yang paling banyak itu. Baru kemudian alas kaki,” tambahnya.

Proses jahit limbah kulit sapi menjadi gantungan kunci, Jumat (20/10/2023). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Sementara bahan dasar kulit itu, lanjutnya, memanfaatkan limbah industri lokal sepatu kulit.

“Mereka (para siswa) buat prototipe diajukan ke Jim Joker (lokal brand sepatu kulit asal Surabaya) setelah itu kita siapkan bentuk pisau potong atau pisau pond, lalu diseset (ditipiskan), kemudian perekatan, lalu penandaan jahitan, membuat lajur, lalu jahit, lalu menipiskan pinggir kulit, lalu finishing dengan krim dan emboss (pemberian brand timbul),” terangnya.

Menurutnya, praktik para siswa cenderung makan biaya banyak karena bahan dasar mahal, sehingga perlu kerja sama dengan industri yang bisa menyediakan kulit.

“Ada beberapa brand lokal Revolt Industry, Verne Industry. Yang baru full (penuh dikerjakan siswa) baru Jim Joker. Yang lain baru kerja sama pemagangan dan penerimaan pegawai atau karyawan yang terserap,” imbuhnya.

Selama ini, sambungnya, penjualan karya kriya kulit buatan siswa hanya mengandalkan pameran rutin setiap bulan dan setahun sekali yang ada di Sekolah. Namun hanya terjual sedikit.

“Sebulan paling tiga sampai empat produk aja. Kalau event tahunan banyak. Jadi kita butuh banget industri. Banyak hal yang harus diperbaiki dari dunia pendidikan. Termasuk penyelarasan dengan dunia industri dan usaaha. Karena industri lebih tahu produk yang laku dan gak. Jadi kita bisa tahu buat produk yang dibutuhkan pasar. Selama ini kita bisanya mendesain kadang tidak terlalu ngerti pasaran yang lagi dicari,” tambahnya lagi.

Sementara industri yang memfasilitasi, Samuel Adidharma Lukito Marketing Manager Jim Joker menyebut, limbah sisa produksi sandal dan sepatu itu sudah tidak bisa dimanfaatkan jadi produk jual.

“Dari sisa produksi alas kaki, kita menemukan banyak limbah yang gak bisa dipakai produksi alas kaki, karena susah dijadikan sepatu dan sandal,” jelasnya.

Untuk 200 merchandise gantungan kunci masing-masing berukuran sekitar 6 x 3 sentimeter itu bisa diolah dari limbah 40 feet yang dikumpulkan selama beberapa bulan.

“Ini baru pertama jadi cari produk yang mudah dahulu. Dilihat bagaimana kelanjutan, apakah produk ini bisa jangka panjang maka bisa produk model lain,” katanya. (lta/ham)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Senin, 27 Mei 2024
29o
Kurs