Minggu, 26 Mei 2024

BKKBN Sebut Program Kesehatan Mental di Posyandu Bermanfaat Tekan Angka Stunting

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan

Hasto Wardoyo Kapala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan, program kesehatan mental yang diselipkan ke dalam posyandu bisa sangat bermanfaat untuk menekan angka prevalensi stunting yang masih 21,6 persen.

“Program kesehatan mental di posyandu ini sejalan dengan upaya percepatan penurunan stunting yang menyasar kepada anak baduta dan balita,” terangnya di Jakarta saat dilansir dari Antara, pada Selasa (9/5/2023).

Hasto mengatakan, masalah gangguan mental emosional (mental emotional disorder) di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, yakni kondisi remaja dengan gangguan mental emosional, angkanya naik dari 6,9 persen pada tahun 2013 menjadi 9,8 persen pada tahun 2018.

Artinya, kata hasto, hampir 10 dari 100 anak mengalami gangguan jiwa, sehingga dibutuhkan sebuah program yang bisa menjaga kestabilan mental ibu ataupun calon ibu sejak usia muda, menurutnya agar tidak mengganggu pemberian pola asuh, kasih sayang, atau kekurangan gizi akibat kurangnya asupan ASI eksklusif di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Dalam kesempatan itu, ia juga mengatakan, terdapat sebuah studi yang menunjukkan bahwa 86 persen ibu hamil berpotensi karena mengalami stres post partum. Kemudian empat dari 10 ibu dengan baby blues mengalami depresi memanjang.

Dengan kondisi seperti tersebut, Hasto menilai posyandu sebagai garda terdepan dan terdekat dalam memberi pelayanan kesehatan ibu hamil, menyusui, dan balita, bisa menjadi sebuah fasilitas kesehatan yang memiliki model intervensi edukasi dan deteksi gangguan kesehatan mental.

Sehingga dalam menemukan solusi dari permasalahan tersebut, ia menyebut, BKKBN sedang mengadakan dialog bersama Dewan Komunitas Wanita Indonesia Keren (WIK), sebuah organisasi wanita yang menginisiasi Program Intervensi Kesehatan Mental di Posyandu.

“Oleh karenanya, program akan didiskusikan pada expert meeting tanggal 17 Juni 2023 mendatang dan akan diimplementasikan dalam berbagai program percepatan penurunan stunting di Kota Semarang,” ujarnya.

Sementara itu, Maria Stefani Ekowati Dewan Pendiri WIK menambahkan, bahwa saat ini terjadi peningkatan kasus gangguan kesehatan mental pada ibu hamil dan menyusui.

Ia mengatakan enam dari 10 ibu menyusui di Indonesia merasa tidak bahagia. Hal ini menjadi salah satu tanda awal gangguan kesehatan mental, karena menurutnya, layanan Atenatal Care (ANC) di posyandu belum memasukkan aspek edukasi dan intervensi kesehatan mental.

“Bisa kita manfaatkan karena tingkat kepercayaan ibu terhadap posyandu masih sangat tinggi. Penyuluhan posyandu sebagai sumber informasi utama kesehatan ibu mencapai 89 persen,” pungkasnya.(ant/ris/ipg)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Minggu, 26 Mei 2024
30o
Kurs