Sabtu, 25 Mei 2024

Mantan Menkes Sebut 50 Persen Penduduk Dunia akan Gunakan Kacamata di Era Digital

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Prof Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019. Foto: Humas Unusa

Prof Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019 memprediksi 50 persen penduduk dunia akan menggunakan kacamata di era digital.

Nila menyebutkan masuknya era digital menjadikan banyak penduduk dunia akan banyak menggunakan kacamata. Penggunaan alat digital seperti HP, komputer dan lainnya membuat mata akan mudah lelah.

“Kita harus menjaga kesehatan mata dengan pemeriksaan mata sehingga bisa mengubah kacamata jika mengalami perubahan,” ungkapnya saat menjadi narasumber dalam stadium generale yang digelar Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, Jumat (13/1/2023).

Nila menyebutkan ada beberapa teknik tersendiri untuk mengatasi mata lelah dengan teknik 20-20-20. Di mana 20 menit yang dihabiskan untuk menatap layar, sehingga anda harus mengistirahatkan mata dengan melihat benda yang berjarak 20 kaki atau enam meter selama 20 detik.

“Kita harus melihat jauh untuk mata lepas melihat benda yang jauh, jadi kita harus mengistirahatkan mata kita,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net.

Nila menjelaskan kesehatan mata saat ini tengah dilirik oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena kesehatan mata itu sangat penting untuk pencapaian SDGs yang merupakan menurunkan angka kemiskinan di dunia.

“Kita akui pendidikan memerlukan penglihatan, pekerjaan memerlukan penglihatan, bahkan lansia pun juga memerlukan penglihatan karena mereka harus tetap bersosialisasi,” ungkapnya.

Nila menjelaskan pada Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 ada 6,9 persen kasus diabetes di Tanah Air, sedangkan tahun 2018 kasus diabetes mengalami peningkatan menjadi 8,5 persen.

“Indonesia menjadi negara yang tinggi dalam diabetesnya, apa sih hubungannya dengan mata? Di mana diabetes ini akan merusak retina karena pendarahan di dalam retina, apa bisa disembuhkan? Jawabnya tidak bisa dan menjadi buta permanen sehingga bukan seperti katarak,” ungkapnya.

Sehingga perlu adanya pencegahan diabetes meningkat lantaran Indonesia tidak ingin banyak masyarakat yang mengalami diabetes yang berdampak pada kebutaan.

“Di mana orang buta tidak bisa berdiri sendiri mereka memerlukan pendamping sehingga ada dua orang yang tidak bekerja berapa kerugian negara dalam hal ini, jadi betul memikirkan penyakit tidak menular tidak stunting,” ungkap Nila.(dfn/faz)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Sabtu, 25 Mei 2024
27o
Kurs