Kamis, 20 Juni 2024

Penderita Hipertensi Jatim Capai 11 Juta Orang Sejak 2018, Dinkes Luncurkan Aplikasi Deteksi Dini

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Seluruh jajaran Dinkes Jatim waktu peluncuran aplikasi e-Desi untuk deteksi dini penyakit Hipertensi, Rabu (3/5/2023). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi Hipertensi di Jawa Timur (Jatim) mencapai 36,3 persen pada penduduk usia di atas 18 tahun. Perkiraan jumlah penderitanya, sekitar 11.596.351 jiwa.

Namun, dari angka 11 juta orang itu, baru 6.030.102 penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan. Artinya masih ada sekitar 5,6 juta orang yang belum terdeteksi, atau tidak mendapatkan perawatan.

Untuk menanggulangi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim meluncurkan terobosan aplikasi pendeteksi dini penyakit hipertensi bernama e-Desi (Deteksi Dini Faktor Risiko Hipertensi Secara Mandiri).

Dokter Erwin Astha Triyono Kadinkes Jatim bilang, aplikasi e-Desi berfungsi untuk melakukan pencegahan dini dengan cara self diagnose, atau mendiagnosis diri sendiri lewat 15 indikator pertanyaan yang harus dijawab.

“Kalau skornya di bawah tujuh maka berpotensi rendah Hipertensi. Tapi kalau di atas tujuh, maka termasuk berisiko tinggi hipertensi, dan dianjurkan untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan (Faskes) terdekat yang bisa diakses lewat aplikasi itu,” kata Erwin, Rabu (3/4/2023).

Dokter Erwin Astha Kadinkes Jatim waktu peluncuran aplikasi e-Desi di Kantor Dinkes Jatim, Rabu (3/5/2023). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Adapun Kabupaten Sidoarjo menjadi daerah yang dipilih untuk massa percobaan aplikasi e-Desi. Namun, Erwin mengatakan semua masyarakat tentu bisa mencoba aplikasi itu dengan mengakses https://dinkes.jatimprov.go.id/e-desi/public/.

Seperti diketahui, penyakit hipertensi merupakan faktor risiko penyebab kerusakan organ vital seperti otak, jantung, ginjal, dan mata. Meski penyakit ini tidak menular, namun penyakit ini timbul tanpa gejala klinis sehingga penderita sering ditemukan pada komplikasi berat.

Tidak hanya itu, pembiayaan kesehatan untuk penyakit katastropik yang termasuk rangkaian hipertensi mencapai 83 persen, dari seluruh biaya pelayanan kesehatan atau sekitar Rp374 triliun sejak 2016 sampai 2020.

Oleh sebab itu, Erwin mendorong semua kalangan usia untuk melakukan deteksi dini dengan aplikasi e-Desi supaya ada langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko hipertensi.

“Kondisi yang diharapkan juga supaya seluruh penderita hipertensi segera mendapatkan tatalaksana klinis untuk mencegah terjadinya komplikasi,” jelas Erwin. (wld/bil/ipg)

Berita Terkait

..
Surabaya
Kamis, 20 Juni 2024
28o
Kurs