Kamis, 13 Juni 2024

Sarung Santri Nusantara: Momen Mengenal Sarung sebagai Bagian Panjang Sejarah

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
K.H Yahya Chollil Staquf Ketum PBNU waktu memberikan sambutan dalam kegiatan Sarung Santri Nusantara di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (21/10/2023). Foto: Billy suarasurabaya.net K.H Yahya Chollil Staquf Ketum PBNU waktu memberikan sambutan dalam kegiatan Sarung Santri Nusantara di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (21/10/2023). Foto: Billy suarasurabaya.net

Kementerian Agama (Kemenag) menggelar kegiatan “Sarung Santri Nusantara” di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (21/10/2023) malam, yang merupakan masih serangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2023.

K.H Yahya Chollil Staquf Ketua PBNU dalam sambutannya waktu membuka acara mengatakan, sarung memiliki perkembangan panjang dalam sejarah Nusantara.

“Sarung itu sudah dipakai orang di Nusantara ini sebelum Islam dikenal. Walaupun masyarakat Nusantara telah menjadi mayoritas Muslim, tapi sarung tetap menjadi tradisi budayanya,” ucapnya waktu memberikan sambutan.

Menurutnya, sarung juga menjadi bukti kesinambungan sejarah dan peradaban luas secara lebih luas.

“Di Indonesia yang mayoritas muslim ini santri dan kyai bersarung, maka kita lihat masyarakat India yang hindu juga bersarung, berarti sarung merupakan penyambung dari sekian banyak masyarakat yang heterogen,” bebernya.

Yaqut Cholil Qoumas Menteri Agama pada acara “Sarung Santri Nusantara” di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (21/10/2023) malam, yang merupakan masih serangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2023. Foto: Billy suarasurabaya.net

Di kesempatan yang sama, Saiful Rahmat Dasuki Wakil Menteri Agama (Wamenag) mengatakan, sarung merupakan bagian yang tak lepas dari ciri bangsa kita.

“Kalau dulu santri dianggap kaum sarungan yang dianggap terbelakang dan tradisional, tapi hari ini kita lihat banyak pejabat pakai sarung di acara resmi kenegaraan. Bahkan bapak Presiden dan Wakil Presiden juga sering memakai di acara-acara kenegaraan,” ujar Saiful Rahmat dalam sambutannya mewakili Menteri Agama.

Untuk itu, dia menekankan sarung yang seringkali diberi stigma dipakai golongan terbelakang tersebut sudah sepatutnya dihilangkan.

Wamenag juga mengemukakan, dalam sejarahnya sarung mengalami transformasi dari banyak agama, sejak saman Hindu, Budha hinga Islam. Sehingga sarung juga jadi simbol persatuan.

“Sarung ditenun helai demi helai menjadi satu sehingga menjadi simbol kesatuan itu sendiri. Untuk bangsa kita yang beragam, ini tentu menjadi simbol ikatan tenun dalam berbangsa bernegara,” ucapnya.

Fashion Show bermacam-macam sarung dari seluruh wilayah Indonesia yang diperagakan Raka-Raki Jatim di acara “Sarung Santri Nusantara” di Gedung Negara Grahadi, Sabtu (21/10/2023) malam, yang merupakan masih serangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2023. Foto: Billy suarasurabaya.net

Pada kesempatan itu, dia juga menungkapkan rencana pihaknya untuk mengajukan supaya ada Hari Sarung Nasional.

“Sarung adalah kekayaan Nusantara karena sarat akan kebudayaan. Dengan faktor-faktor tadi kiranya bisa diperingati sebagai Hari Sarung Nasional. Acara ini InsyaAllah adalah awalan mewujudkan Hari Sarung Nasional di kemudian hari,” tutupnya.

Hadir dalam kegiatan ini selain Wamenag dan Ketum PBNU, yakni Yaqut Chollil Qoumas Menteri Agama, Abdullah Azwar Annas Menpan RB, hingga Syaifullah Yusuf Sekjen PBNU, serta tamu undangan lainnya.

Sebagai informasi, Kegiatan Sarung Nusantara ini dimeriahkan juga oleh Fashion Show bermacam-macam sarung dari seluruh wilayah Indonesia yang diperagakan Raka-Raki Jatim, Stand Up dari komedian Tretan Muslim, pembacaan puisi oleh budayawan Sosiawan Leak, dan penampilan musisi Armand Maulana. (bil/iss)

Berita Terkait

..
Surabaya
Kamis, 13 Juni 2024
25o
Kurs