Senin, 2 Maret 2026

153 Orang Meninggal Akibat Serangan Rudal AS-Israel yang Menghantam Sekolah di Iran

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Bangunan sekolah yang rusak akibat serangan rudal yang menghantam sekolah putri di Iran. Foto: Istimewa

Sebanyak 153 orang termasuk anak-anak meninggal dunia akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang terjadi di salah satu sekolah putri di wilayah Iran bagian selatan.

Melansir BBC, sekolah putri tersebut terletak di Minab, Provinsi Hormozgan, dan berjarak hanya sekitar 600 meter dari pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC). Sebelumnya, pangkalan tersebut pernah menjadi target serangan.

Dilaporkan Iranian Red Crescent, terpantau sejak Sabtu (28/2/2026) setidaknya ada 201 orang meninggal dan 747 lainnya terluka dalam serangan udara tersebut.

Masoud Pezeshkian Presiden Iran menyebut, insiden tersebut sebagai tindakan tidak beretika. Menurutnya, serangan itu menjadi satu lagi catatan kelam dalam deretan panjang pelanggaran yang dilakukan oleh pihak agresor, dalam hal ini AS dan Israel.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (Central Command/Centcom) mengatakan, sedang menyelidiki laporan atas insiden tersebut, sementara militer Israel mengatakan tidak mengetahui adanya operasi Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) di daerah tersebut.

Tim Hawkins Juru Bicara Centcom yang menanggapi laporan tersebut menegaskan akan mengambil tindakan pencegahan untuk meminimalkan risiko berbahaya lainnya.

“Perlindungan warga sipil adalah hal yang sangat penting dan kami akan terus mengambil semua tindakan pencegahan yang tersedia untuk meminimalkan risiko bahaya yang tidak disengaja,” katanya.

Menyusul insiden di sekolah putri itu, ICRC (Komite Internasional Palang Merah) dan IFRC (Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah) di Jenewa turut menyatakan pihaknya telah mengerahkan tim tanggap darurat ke sekolah tersebut.

Di lain sisi, pejabat setempat menyebut sekolah tersebut telah menjadi target serangan rudal sebanyak tiga kali.

Meskipun demikian, pihak berwenang belum dapat memverifikasi secara pasti jumlah korban meninggal akibat insiden tersebut. Ditambah lagi sebagian besar jurnalis internasional seringkali tidak mendapat izin visa untuk dapat melaporkan kondisi terkini yang terjadi di Iran. Sehingga, informasi yang didapat sangat terbatas.

Merespons insiden besar tersebut, salah seorang masyarakat Iran menyikapinya dengan menentang intervensi militer yang terjadi di Iran. Dia mempertanyakan apakah serangan seperti ini yang pemerintah inginkan, karena sudah ada setidaknya 40 perempuan Minab yang menjadi korban dari serangan rudal.

Ketidakpercayaan yang mendalam terhadap rezim Iran itu membuat laporan resmi sulit diterima oleh banyak orang dan beberapa warga Iran dengan gamblang menyalahkan rezim tersebut atas serangan itu.

Seorang warga lainnya juga memberi komentar dengan menyebut, “Meskipun rezim tidak secara langsung menargetkan sekolah, kematian anak-anak di Minab tetap menjadi tanggung jawab Republik Islam,”

“Orang-orang tidak punya tempat berlindung, internet terputus, saluran telepon mati, dan tidak ada peringatan untuk tidak mengizinkan anak-anak bersekolah. Dalam kondisi seperti ini, persyaratan minimum seharusnya adalah tetap berada di rumah,” tambahnya.

Tragedi sekolah itu terjadi ketika AS dan Israel melancarkan gelombang demi gelombang serangan udara terhadap target di sejumlah kota di Iran sepanjang hari, Sabtu (28/2/2026) lalu.

Serangan berlanjut pada Minggu (1/3/2023), menyusul wafatnya Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran akibat serangan udara, bersama sejumlah komandan tempur seniornya.(mar/bil/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 2 Maret 2026
34o
Kurs