Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur mencatat seluas 95,52 hektare lahan jagung terdampak kekeringan ekstrem yang berakibat pada gagal panen terhadap 24,6 hektare lahan di antaranya.
Heru Suseno Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim menjelaskan, luas lahan yang terdampak kekeringan tersebut relatif lebih kecil dibandingkan total lahan jagung di semua wilayah.
Oleh karena itu, ia memastikan gagal panen terhadap 24,6 hektare lahan tersebut tak akan mengganggu ketersediaan jagung untuk kebutuhan peternakan di Jatim.
“Produksi jagung Jatim masih diproyeksikan surplus dengan perkiraan panen Januari hingga Oktober 2026 mencapai 3.714.043 ton untuk kadar air 14 persen,” kata Heru, Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan data Dinas Peternakan Jatim, kebutuhan jagung untuk kebutuhan pakan ternak di Jawa Timur sepanjang 2026 mencapai 3.283.550 ton yang didominasi sektor perunggasan.
Ayam ras petelur menjadi konsumen terbesar dengan kebutuhan tahunan mencapai 2.398.710 ton. Kemudian ayam ras pedaging membutuhkan sekitar 533.319 ton jagung per tahun.
Sementara kebutuhan ayam buras mencapai 204.822 ton dan burung puyuh sekitar 146.699 ton per tahun.
Dari total kebutuhan 3,28 juta ton jagung bagi pakan ternak, sekitar 2,93 juta ton otomatis terserap oleh ayam ras petelur dan pedaging.
Heru mengatakan, perhitungan produksi jagung tersebut mengacu pada luas panen sekitar tiga bulan sebelumnya.
Meski demikian, Heru menegaskan ancaman kekeringan tetap menjadi perhatian pemerintah provinsi sebab tanaman jagung yang mengalami puso tidak lagi dapat dipanen.
Sementara itu di antara 92,52 hektare lahan jagung yang terdampak kekeringan, kerusakan paling parah tercatat di daerah Tulungagung, Sumenep, dan Malang.
“Daerah yang mengalami puso jagung di antaranya 16,6 hektare di Tulungagung, satu hektare di Sumenep, dan tujuh hektare di Malang,” rinci dia.
Sebagai upaya menekan dampak kekeringan ekstrem, Dinas Pertanian telah melakukan sejumlah intervensi, terutama dukungan irigasi oleh Kementerian Pertanian guna membantu menjaga pasokan air selama musim kemarau.
Selain itu, Pemprov Jatim telah mengalokasikan bantuan sebanyak 1.000 paket benih jagung bagi wilayah yang tanaman pertaniannya mengalami gagal panen.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemulihan lahan terdampak sekaligus menjaga kesinambungan produksi jagung Jatim.
“Salah satu penyangga atas pasokan tersebut adalah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung yang disalurkan Perum Bulog untuk menyediakan bahan baku pakan dengan harga terjangkau bagi peternak rakyat,” jelasnya. (wld/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

