Serangan balasan dari kelompok Hizbullah ke wilayah utara Israel dilaporkan melukai sedikitnya empat orang pada, Jumat (10/4/2026) waktu setempat.
Sejumlah media Israel melaporkan, sekitar 30 roket ditembakkan dari wilayah Lebanon sejak pagi hingga siang hari. Serangan menyasar sejumlah area di Israel utara, termasuk permukiman dan fasilitas strategis.
Surat kabar Haaretz menyebut, empat orang mengalami luka dalam salah satu rentetan serangan roket tersebut. Sementara laporan dari Yedioth Ahronoth mengungkapkan adanya kebakaran di wilayah Metula, kerusakan bangunan di Misgav Am, serta kebakaran lain yang menyebabkan kerusakan struktural di Nahariya.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah mengklaim telah melancarkan total 47 serangan pada hari yang sama. Target serangan mencakup permukiman, pasukan militer, kendaraan, hingga fasilitas militer Israel.
Kelompok tersebut menyatakan bahwa serangan dilakukan “untuk membela Lebanon dan rakyatnya”, sekaligus sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, Rabu (8/3/2026) lalu.
“Serangan akan terus berlanjut hingga agresi Israel-Amerika terhadap negara dan rakyat kami dihentikan,” demikian pernyataan Hizbullah yang dikutip Anadolu, Sabtu (11/4/2026).
Akibat serangan tersebut, sirene peringatan serangan udara dilaporkan berbunyi setidaknya 29 kali di 39 wilayah Israel, termasuk di kota besar seperti Tel Aviv dan Ashdod.
Di sisi lain, militer Israel masih terus melanjutkan serangan besar-besaran ke wilayah Lebanon sejak Rabu. Berdasarkan data otoritas pertahanan sipil Lebanon, sedikitnya 303 orang dilaporkan meninggal dan 1.150 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Pemerintah Amerika Serikat (AS) dijadwalkan akan memfasilitasi pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon pekan depan, sebagai bagian dari negosiasi gencatan senjata.
Rencana dialog tersebut menyusul pengumuman gencatan senjata sementara selama dua pekan antara AS dengan Iran, yang diharapkan dapat meredakan konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
