Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi masih terjadi. Hingga Jumat (4/9/2026) pagi, panjang antrean mencapai sekitar 12 kilometer.
Sebelumnya, sejumlah informasi yang beredar menyebut panjang antrean mencapai 20 kilometer dan tidak bergerak. Namun, kepolisian setempat mengklarifikasi hal tersebut.
“Sedikit saya revisi. Bukan 20 kilo, tapi 12 kilo dan situasi saat ini masih berjalan lancar, tidak stuck. Kendaraan tetap berjalan, roda berputar,” kata AKP Ridho Rinaldo Harahap Wakasatlantas Polresta Banyuwangi waktu on air di Radio Suara Surabaya, Jumat.
Menurutnya, kepadatan didominasi kendaraan logistik, terutama truk sumbu tiga ke atas yang hendak menuju Gilimanuk melalui Pelabuhan Ketapang, maupun menuju Lombok lewat Pelabuhan Tanjung Wangi.
Sejumlah kantong parkir yang tersedia juga mulai padat bahkan penuh. Polisi kemudian memprioritaskan kendaraan kecil dan bus penumpang, sementara truk besar diarahkan masuk ke buffer zone terlebih dahulu.
“Untuk truk besar atau kendaraan sumbu tiga ke atas, kami masukkan dulu ke kantong parkir. Nanti setelah kosong baru kami geser ke Pelabuhan Tanjung Wangi maupun ASDP,” jelasnya.
AKP Ridho menyebut, lonjakan volume kendaraan jadi salah satu penyebab utama kepadatan. Kondisi itu diperparah perbaikan Dermaga 2 Gilimanuk yang sampai sekarang masih berlangsung. Perbaikan dermaga tersebut, kata Wakasatlantas, dijadwalkan selesai sebelum periode Natal dan Tahun Baru.
“Memang salah satunya volume kendaraan logistik maupun nonlogistik yang ingin mengarah ke Lombok maupun ke Gilimanuk itu meningkat. Dan satu sisi penyebab lainnya, Dermaga 2 Gilimanuk itu masih dalam perbaikan,” ujarnya.
Kepadatan tidak hanya terjadi di akses menuju Pelabuhan Ketapang. Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Tanjung Wangi juga terdampak dan diperkirakan memanjang hingga kawasan Grand Watu Dodol.
Untuk mencegah antrean berhenti total, pihak Satlantas Polresta Banyuwangi telah menerapkan sejumlah rekayasa lalu lintas, memanfaatkan kantong-kantong parkir atau buffer zone.
Dari arah selatan, ketika area parkir Pelabuhan Ketapang penuh, truk dialihkan dari Simpang Tiga Farli melalui jalur lingkar menuju Simpang Tiga KP3. Kendaraan kemudian diarahkan ke buffer zone Dermaga Bulusan sebagai bagian dari delay system.
“Ketika di ASDP sudah mulai kosong atau sedikit longgar, yang dari Dermaga Bulusan kami geser lagi masuk ke ASDP. Begitu seterusnya,” kata Ridho.
Sementara truk dari arah utara dengan tujuan Bali langsung diarahkan ke Dermaga Bulusan apabila parkir Pelabuhan Ketapang penuh. Pengaturan serupa juga dilakukan untuk kendaraan yang menuju Pelabuhan Tanjung Wangi.
Truk dari arah Surabaya diarahkan masuk ke Ruang Tunggu Kendaraan (RTK). Polisi kemudian menerapkan sistem buka-tutup ketika kendaraan keluar dari RTK menuju pelabuhan untuk mencegah penumpukan pada titik persilangan arus.
Apabila Pelabuhan Tanjung Wangi dan RTK penuh, kendaraan kembali dialihkan ke buffer zone Terminal Sri Tanjung. AKP Ridho mengatakan Terminal Sri Tanjung memiliki kapasitas sekitar 80 kendaraan.
“Terminal Sri Tanjung dengan muatan 80 kendaraan sudah terisi 60. Tapi seiring berjalannya waktu pelan-pelan akan terjadi pengurangan,” ujarnya.
Selain rekayasa lalu lintas di darat, kepolisian terus berkoordinasi dengan pihak pelabuhan untuk mempercepat penguraian kendaraan. Salah satunya yang sedang dibahas, yakni menambah jumlah operasional kapal untuk melayani penyeberangan.
Saat ini, menurut Ridho, terdapat 25 kapal yang beroperasi. Jumlah tersebut memungkinkan ditambah hingga 32 kapal apabila kondisi dinilai mendesak.
“Kami terus berkomunikasi dengan pihak ASDP untuk melakukan penambahan kapal. Sampai saat ini yang beroperasi itu ada 25 kapal. Dan apabila memang keadaan sangat urgen atau memang keadaan sangat mendesak, itu bisa penambahan sampai 32 kapal,” jelasnya.
Ridho berharap penambahan kapal dapat segera dilakukan sehingga kendaraan yang masih berada di kantong-kantong parkir maupun badan jalan bisa lebih cepat masuk ke pelabuhan.
Polisi juga terus berkoordinasi dengan pengelola Pelabuhan Tanjung Wangi karena kepadatan terjadi pada dua akses pelabuhan tersebut secara bersamaan. Meski demikian, Ridho belum dapat memastikan kapan arus kendaraan akan kembali normal.
“Saya tidak bisa menentukan kapan normalnya. Cuma kami terus berusaha untuk kepadatan ini supaya terurai, yang mana tujuan utamanya ini tidak terjadi stuck, namun kendaraan tetap bisa berjalan walaupun perlahan,” katanya.
Pengendara dari Surabaya Disarankan Lewat Jember
Untuk membantu mengurangi kepadatan, polisi juga menyarankan pengendara dari arah Surabaya dan Situbondo yang tujuan akhirnya Banyuwangi Kota mempertimbangkan lewat Jember.
“Kalau saran kami memang yang dari Surabaya, Situbondo, kalau memang bisa melewati Jember, kami sarankan melewati Jember karena sedikit untuk mengurangi penumpukan kendaraan di wilayah Tanjung Wangi maupun di ASDP,” ujar Ridho.
Sementara pengendara yang tetap harus melintasi Ketapang dan Tanjung Wangi, polisi mengingatkan agar tidak menyerobot jalur atau “ngeblong”. Petugas saat ini berjaga di sepanjang jalur menuju Pelabuhan Ketapang hingga kawasan Grand Watu Dodol untuk mencegah kendaraan mengambil jalur berlawanan.
Ridho mengatakan tindakan tersebut justru berpotensi membuat kedua arah terkunci dan memperparah kemacetan. “Jangan ada yang ngeblong. Semuanya ingin cepat, semuanya juga ngejar waktu, tapi dengan ngeblong bukan solusi malah menambah masalah kemacetan,” tegasnya. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

