Bangladesh mencatat kematian pertama akibat virus Nipah (NiV) pada 2026, setelah seorang wanita meninggal dunia akibat penyakit yang menyerang otak tersebut.
Kasus terjadi di utara Distrik Naogaon. Sharmin Sultana pejabat senior di Institute of Epidemiology, Disease Control and Research menyatakan, pasien berusia 40-an tahun mulai menunjukkan gejala pada 21 Januari.
Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, kram otot, hilang nafsu makan, kelelahan, dan muntah. Kondisi pasien kemudian memburuk dengan munculnya hipersalivasi, disorientasi, dan kejang-kejang.
“Pada 27 Januari, pasien mengalami kehilangan kesadaran dan dirujuk ke rumah sakit tersier untuk perawatan lebih lanjut,” ujar Sultana dilansir dari Antara, Minggu (8/2/2026).
Virus Nipah pertama kali dilaporkan di Bangladesh pada 2001. Sejak itu, kasus infeksi manusia terjadi hampir setiap tahun. Pada 2025, empat kematian akibat NiV yang dikonfirmasi laboratorium tercatat di negara tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus Nipah merupakan penyakit zoonosis serius yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama melalui konsumsi produk yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan hewan yang membawa virus.
Otoritas Bangladesh kini meningkatkan pengawasan dan imbauan bagi masyarakat untuk menghindari konsumsi buah mentah atau produk yang berisiko terkontaminasi virus. (ant/mun/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
