Selasa, 7 April 2026

BMKG Sebut Tren Kemarau Kering El Nino di Jatim Melandai sejak 2023

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Taufiq Hermawan Kepala BMKG Juanda saat ditemui usai mengikuti Rakor Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau Tahun 2026 di Surabaya, Selasa (7/4/2026). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda menyebut tren kemarau kering fenomena El Nino mengalami penurunan intensitas sejak 2023 yang tercatat menjadi tahun paling kering.

Taufiq Hermawan Kepala BMKG Juanda menjelaskan bahwa tingkat kekeringan tersebut dihitung melalui parameter El Nino-Southern Oscillation (ENSO) atau suhu permukaan laut di Samudera Pasifik yang baru mencapai 0, belum angka 1 pada 2026.

Hal tersebut disampaikan Taufiq usai mengikuti “Rakor Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau Tahun 2026” di Surabaya pada Selasa (7/4/2026).

“Tahun ini terus melandai dari 2023, 2024, 2025 lah 2026 ini tadi nilainya masih 0, belum 1 ya El Ninonya lemah. Dari parameter ENSO,” ujar Taufiq.

Taufiq juga menjelaskan bahwa fenomena kekeringan El Nino memiliki tingkatan mulai dari lemah, moderate atau kuat.

Fenomena El Nino dengan tingkat kekeringan kuat pernah melanda Jawa Timur pada 2023 yang memicu peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah hingga kesulitan air bersih.

“Yang paling kering untuk wilayah Jawa Timur seperti yang sudah saya sampaikan di 2023. Nah, kita bekerja bersama-sama waktu itu di Kaliandra. Untuk melakukan pemadaman melalui helikopter itu di 2023,” ucapnya.

Taufiq mengatakan sesudah fenomena El Nino kering kuat pada 2023, parameter BMKG mencatat tingkat kekeringan tidak semerah sebelumnya dan cenderung lebih hijau atau disebut kemarau basah.

“Nah, 2024 tadi saya jelaskan bervariasinya sudah mulai tidak semerah ya 2023, 2025 juga lebih landai lagi hijau tadi petanya,” tuturnya.

“Nah, 2026 ini karena nilainya yang sudah saya jelaskan tadi masih belum 1 ya, masih 0, nah ini harapannya juga tidak moderat, tidak sampai moderat. El Nino pun lemah saja,” sambungnya.

Meski demikian, Taufiq menegaskan mitigasi musim kemarau yang dilakukan Pemprov Jatim untuk menjaga ketahanan pangan dan mencegah karhutla perlu dilakukan.

“Antisipasi dari pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah sedemikian masif untuk dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut,” jelasnya.

BMKG memproyeksi fenomena ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi pada kondisi Netral hingga pertengahan tahun 2026.

Namun El Nino diprakirakan menguat menjadi kategori lemah hingga moderat hingga akhir tahun 2026 dengan peluang sebesar 50-60 persen. Oleh karena itu, Taufiq menyebut kondisi kekeringan masih berpotensi dapat melanda wilayah Jatim pada tahun ini.

“Kondisi ini menyebabkan musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur berpotensi lebih kering,” ungkapnya. (wld/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 7 April 2026
31o
Kurs