Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China membantah pernyataan Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) yang mengatakan bahwa Xi Jinping Presiden tidak akan mencoba merebut Taiwan selama dia masih menjabat sebagai presiden.
“Isu Taiwan sepenuhnya merupakan urusan dalam negeri China. Cara penyelesaiannya adalah urusan rakyat China sendiri dan tidak mentoleransi campur tangan pihak luar,” kata Mao Ning Juru Bicara (Jubir) Kemlu China dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (9/1/2026).
Melansir Antara, hal itu disampaikan merespons pernyataan Trump kepada media The New York Times yang sebelumnya menyebut Xi Jinping Presiden mungkin akan merebut Taiwan setelah AS punya presiden yang berbeda.
“Taiwan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah China,” tegas Mao Ning.
Untuk diketahui, dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan “Itu terserah dia (Xi), apa yang akan dia lakukan. Namun, saya telah menyampaikan kepadanya bahwa saya akan sangat tidak senang jika dia melakukan itu, dan saya tidak berpikir dia akan melakukannya.”
AS diketahui melakukan penjualan senjata dan peralatan terkait senilai lebih dari 11 miliar dolar AS (sekitar Rp183,9 triliun) ke Taiwan pada 17 Desember 2025. Atas tindakan itu, pemerintah China sudah menyatakan protes keras kepada AS.
Paket AS tersebut mencakup delapan sistem persenjataan, termasuk Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (High Mobility Artillery Rocket Systems/HIMARS) dan rudal antitank Javelin, menurut Defense Security Cooperation Agency (DSCA), yang telah memberi tahu Kongres mengenai rencana tersebut setelah adanya keputusan Departemen Luar Negeri AS.
Selain 82 unit HIMARS dan lebih dari 1.000 rudal Javelin, paket tersebut juga mencakup 60 sistem howitzer swagerak beserta peralatan terkait dengan nilai lebih dari 4 miliar dolar AS (Rp66,9 triliun).
Penjualan itu ditujukan untuk meningkatkan kemampuan Taiwan dalam menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan dengan memperkuat pertahanan diri pasukannya.
Selain itu, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) juga melakukan latihan militer mengelilingi Pulau Taiwan pada 29 Desember 205 sebagai peringatan keras terhadap kekuatan separatis “kemerdekaan Taiwan” dan campur tangan kekuatan eksternal.
Selain latihan militer, China juga sudah menjatuhkan sanksi terhadap 20 perusahaan militer AS dan 10 orang petinggi korporasi terkait penjualan senjata ke Taiwan. (ant/bil)
NOW ON AIR SSFM 100
