Di tengah berkecamuknya perang di Timur Tengah yang diinisiasi Amerika Serikat (AS)-Israel serta konflik Ukraina-Rusia yang belum usai, ancaman kesehatan global berupa Cicada (subvarian baru Covid-19) dan Campak mulai menyeruak ke permukaan.
Terkait hal ini, dr. Ari Baskoro Spesialis Penyakit Dalam dan Imunolog Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) pun ikut buka suara.
Ia mengingatkan bahwa sejarah kelam pandemi, selayaknya tetap harus jadi pengingat sebagai bentuk kewaspadaan. Ia menyoroti kemunculan Cicada, sebuah mutasi level tinggi dari subvarian Omicron yang memiliki 75 mutasi asam amino pada antigen spike (S).
“Cicada tak lain dan tak bukan adalah ‘keturunan’ subvarian Omicron Covid-19, hasil mutasi. Tetapi kali ini mutasinya terbilang level tinggi. Ada sebanyak 75 mutasi asam amino pada antigen ‘spike’ (S). Artinya kelas mutasinya dua kali lipat lebih banyak dibanding subvarian JN1 yang dominan selama dua tahun terakhir,” tulis dr. Ari dalam catatannya yang diterima suarasurabaya.net, Senin (6/4/2026).
Dia menjelaskan, nama “Cicada” sendiri diambil dari bahasa Latin yang berarti serangga sejenis jangkrik atau tonggeret. Penamaan ini merujuk pada pola virus (secara ilmiah disebut BA.3.2) yang sempat “bersembunyi” setelah terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024, namun kini mulai “bangun dan berlari” menyebar ke 25 negara, termasuk separuh negara bagian AS.
Bersamaan dengan itu, dunia juga dihantam oleh merebaknya wabah campak. Indonesia bahkan mendapat status “merah” Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, peringkat kedua di dunia setelah Yaman.
“Indonesia mendapat status ‘merah’ kejadian luar biasa (KLB) campak. Peringkatnya kedua dari seluruh negara di dunia, setelah Yaman. Menurut Kementerian Kesehatan, pola epidemiologinya berfluktuasi sejak awal tahun 2026. KLB tersebar di 39 kabupaten/kota, pada 14 provinsi,” ungkap imunolog Unair itu.
Ia kemudian menarik benang merah antara kecamuk perang dengan munculnya wabah, berkaca pada sejarah “Flu Spanyol” tahun 1918 yang meledak bersamaan dengan Perang Dunia I.
Perang tidak hanya menimbulkan cedera fisik, tetapi juga memicu tragedi ekologi yang merusak lingkungan dalam jangka panjang. Emisi gas rumah kaca dari kendaraan tempur, kebakaran fasilitas industri, hingga kerusakan hutan akibat perang yang menyebabkan “kegagalan” bumi menyerap karbon. Perubahan iklim inilah yang menurut WHO menjadi ancaman kesehatan terbesar abad ke-21.
“Kerusakan ekologi (deforestasi, kebakaran hutan-lahan, badai angin), secara drastis berdampak mengganggu homeostasis alam. Komposisi komunitasnya menjadi kacau. Efeknya berpotensi memantik persoalan buruk. Misalnya dalam bentuk munculnya patogen yang berbahaya (emerging infectious diseases/EIDs). Mikroba semacam HIV, SARS/Covid-19, Campak… patut diwaspadai,” jelas dr. Ari.
Situasi menjadi semakin pelik karena polusi udara akibat perang merusak barier epitel saluran napas manusia. Saluran napas merupakan target sasaran utama baik bagi virus Cicada maupun Campak.
Ari memperingatkan bahaya jika seseorang terinfeksi keduanya secara bersamaan. Terlebih, campak dikenal memiliki efek “amnesia imunitas” yang membuat sistem kekebalan tubuh seseorang menjadi sangat rapuh terhadap infeksi lain.
“Campak dikenal mampu memicu amnesia imunitas. Artinya imunokompromi yang diakibatkannya, menjadikan seseorang rentan terpapar infeksi mikroba lainnya. Termasuk Cicada. Jika kebetulan menyerang seseorang secara bersamaan, risiko bahayanya menjadi berlipat kali,” tulisnya memperingatkan.
Meskipun gejala klinis Cicada saat ini didominasi nyeri tenggorok yang khas dan tidak lebih berat dari varian sebelumnya, statusnya masih sebagai Variant under Monitoring (VuM).
Terakhir, dr. Ari menekankan bahwa perdamaian adalah kunci utama bagi kesehatan lingkungan dan manusia.
“Sejatinya perdamaian jauh lebih berharga daripada kemenangan di medan tempur. Perang hanya melahirkan kehancuran dan kebencian baru. Sebaliknya, perdamaian adalah kebijaksanaan luhur bagi lingkungan,” pungkasnya. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
