Pemerintah Provinsi Jawa Timur bakal melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) hingga 31 Januari 2026 menyusul potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan BMKG Juanda berlanjut pada awal tahun ini.
Gatot Soebroto Kepala Pelaksana BPBD Jatim menjelaskan, keputusan memperpanjang OMC ini dilakukan atas arahan Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim.
Berdasarkan prediksi BMKG Juanda, potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur berlanjut hingga Februari mendatang. Diprakirakan, curah hujan pada Januari mencapai sekitar 58 persen sedangkan pada Februari sekira 22 persen.
“Atas arahan Gubernur, kami melanjutkan langkah strategis penanganan cuaca ekstrem, berupa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung hingga 31 Januari nanti,” ujar Gatot dikonfirmasi, Selasa (6/1/2026).
Gatot mengatakan, OMC yang dimulai sejak 1 Januari 2026 itu telah dilaksanakan sebanyak tujuh sorti dengan sasaran wilayah di Selatan Jatim, Selatan Pulau Madura, dan beberapa titik di wilayah barat Jatim.
Selain menjalankan OMC, BPBD Jatim bersama kabupaten/kota dan sejumlah OPD di lingkungan Pemprov Jatim melakukan sejumlah upaya mitigasi.
Upaya pencegahan itu antara lain melakukan normalisasi dan bersih-bersih sungai, menyiagakan personel dan peralatan hingga melakukan sejumlah pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Berbagai langkah preventif tersebut dilakukan untuk meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi. Sebab sepanjang tahun 2025, BPBD Jatim mencatat sebanyak 531 kejadian bencana.
Dari jumlah itu, didominasi bencana hidrometeorologi mulai dari banjir sebanyak 149 kejadian, angin kencang 147 kejadian hingga tanah longsor 21 kejadian.
“Umumnya, bencana hidrometeorologi ini disebabkan karena cuaca ekstrem yang terjadi secara merata di Jawa Timur,” pungkasnya. (wld/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
