Rabu, 11 Maret 2026

Dokter Ungkap 20 Persen Pasien Gangguan Jantung Usia Produktif 30 Tahun ke Atas

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Dokter Jordan Bakhriansyah Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Wakil Ketua II Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI). Foto: Istimewa

Dokter Jordan Bakhriansyah Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Wakil Ketua II Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI) menyebut, pasien gangguan jantung mulai bergeser ke usia produktif 30 tahun ke atas, jumlahnya 20 persen dari keseluruhan.

“Gangguan jantung bukan hanya untuk pasien dengan usia lanjut, yang muda pun mulai terserang,” ujarnya, Rabu (11/3/2026), di Surabaya.

Dia menduga penyebab utamanya perubahan gaya hidup, pola makan yang banyak mengonsumsi makanan cepat saji atau olahan dengan bahan kimia.

“(Faktor lain) kemudahan akses untuk pemeriksaan diri lebih dini,” ungkapnya lagi.

Menurutnya, ada ciri yang bisa dikenali pasien selain keluhan nyeri dada, sesak napas dan berdebar. Beberapa di antaranya bengkak di kedua kaki, rasa sebah, mual, dan pusing.

Medical and Nursing General Manager National Hospital itu juga mengungkap ada kenaikan jumlah tindakan intervensi jantung 2025 lalu.

“Secara umum ada peningkatan jumlah kunjungan pasien Rawat Jalan di NH yang tembus 100 ribu pasien di tahun 2025, dan ada kenaikan jumlah tindakan intervensi jantung di ruang kateterisasi selama tahun 2025,” bebernya.

Pasien yang sudah mendapat terapi obat lengkap, lanjutnya, masih mungkin merasakan keluhan nyeri dada.

Untuk mengatasinya, dia menyebut ada terapi tambahan yang bisa dilakukan yaitu Enchanced External Counter Pulsation (EECP).

Terapi itu bisa juga dilakukan untuk pasien yang tidak mungkin diintervensi katerisasi atau operasi.

“Maka bisa dipertimbangkan penggunaan EECP untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dan mengurangi risiko hospitalisasi pasien,” paparnya.

Lebih lanjut, dia menyebut Intensive Cardio Cerebro Vascular Care Unit dan Enchanced External Counter Pulsation (EECP) pertama di Indonesia Timur itu akan fokus pada kasus-kasus jantung. (lta/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Rabu, 11 Maret 2026
28o
Kurs