Penyebab perundungan anak SMP di Kapasan, Surabaya, diduga terjadi karena rebutan cowok. Kasus tersebut mencuat dan menjadi perbincangan setelah video perundungan menyebar di media sosial.
“Kemarin sekilas tercetus begitu (dugaan penyebabnya),” kata Ida Widayati Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau (DP3A) Kota Surabaya saat dikonfirmasi suarasurabaya.net pada Minggu (1/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa mereka tidak pacaran, namun memiliki kemungkinan sama-sama naksir terhadap cowok yang sama, sehingga terjadilah keributan yang mengarah pada perundungan.
Kasus tersebut, kata Ida, sudah terjadi sejak akhir Desember 2025 yang lalu dan sudah mendapatkan penanganan dari DP3A.
“Itu sebetulnya sudah lama kita dampingi, kan peristiwanya di 30 Desember malem. Terus kita juga sudah dampingi mulai 5 Januari kemarin,” ucapnya.
Saat ini, korban masih mengalami trauma setelah mendapat perundungan dari teman-temannya. DP3A juga memastikan terus melakukan penanganan berupa pendampingan psikiater dan psikolog, serta pendampingan Polrestabes Surabaya.
“Ya, seperti kita menangani kasus pada umumnya, tapi kita tidak tahu itu kenapa kok baru dimunculkan sekarang,” ucapnya.
Ida mengatakan bahwa sebelumnya juga sudah diadakan mediasi antara orang tua korban dengan kelurahan, namun tidak mendapatkan titik temu. Kemudian, orang tua korban melaporkan ke Pokaek setempat.
“Sempat tertahan laporan itu beberapa hari di situ, terus dibilangi harus ke Polrestabes. Nah sekarang sudah ditangani Polrestabes, sudah di BAP juga. Prosesnya masih berjalan, masih kita dampingi terus,” ucapnya.
Ida menyebut, pendampingan dalam kasus tersebut butuh proses, karena pelaku dan korban semuanya anak-anak.
Sementara itu, Febrina Kusumawati Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya menambahkan bahwa Dispendik juga turut memberikan mediasi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
“Tapi rasanya memang ada orang tua yang masih belum bisa menerima, tapi si anak sudah. Yang penting kita nyelamatin si anak ya. Si anak itu dengan situasi yang kemarin terlibat dalam trauma juga sudah didampingi untuk pemulihan, supaya anak itu tidak menjadi trauma,” jelasnya.
Pihaknya memastikan, pemerintah kota Surabaya melalaui Dispendik akan terus mendampingi anak-anak, dan memastikan anak-anak mendapatkan haknya.
Langkah tersebut, kata dia, harus diwujudkan dengan penguatan kolaborasi lintas sektor, baik dari dinas, sekolah, maupun orang tua anak.
“Kolaborasi besar itu harus kita lakukan, kita pemerintah kota dari Dinas Pendidikan untuk memberikan pembekalan untuk anak-anak, terus Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak juga ada tim-tim khusus, yang tadi ada pembinaan keluarga juga, itu yang kita lakukan secara komprehensif,” pungkasnya.(ris/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
