Jumat, 23 Januari 2026

Eri Tegaskan Tak Pernah Arahkan Timnya Rekayasa atau Nyetok Berita Turun ke Lapangan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya saat berbincang-bincang dalam program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (23/1/2026). Foto: Chandra suarasurabaya.net

Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya memastikan tidak pernah sekalipun mengajari dan mengarahkan tim media sosialnya untuk mengatur, merekayasa, atau “nyetok” bahan berita ketika dirinya turun ke lapangan.

Penegasan itu ia sampaikan untuk merespons istilah “epok-epok” (pura-pura) yang hingga kini masih kerap ditujukan kepadanya di media sosial, imbas bocornya percakapan tim medianya saat siaran langsung beberapa waktu lalu.

“Saya itu tidak pernah mengajari itu sama sekali. Mereka tahu karakter saya. Jangankan anak buah saya yang medsos, kepala dinas loh gak ada sing wani (ga ada yang berani) melakukan hal itu (nyetok). Lah masa aku kate ngajari areke nyetoken,” tegas Eri saat mengisi program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (23/1/2026).

Ia menegaskan, peristiwa bocornya obrolan “epok-epok” tersebut murni terjadi karena spontanitas anak-anak muda, bukan arahan, apalagi setingan darinya. Ia menjelaskan, obrolan itu muncul karena interaksi santai di antara tim.

“Lah ketika live itu dia ngobrol sama temannya. Ya podo karo guyon mau,wis disetok ae yo’. Karena lek awak dewe gak mudun timbang awak dewe diseneni, gak melok, melok (karena kalau kita tidak ikut turun, kita justru yang dimarahi). Lah itu akhirnya kan rame,” ucapnya.

Eri menilai guyonan semacam itu adalah hal yang wajar di kalangan anak muda dan bukan sesuatu yang baru. Ia mencontohkan kejadian serupa di masa lalu terkait hujan es yang juga sempat menimbulkan kontroversi.

Sementara terkait bully-an warga yang terus muncul kepada dirinya hingga saat ini, Eri mengaku menyadari bahwa dampaknya justru paling besar dirasakan oleh dirinya secara pribadi.

“Yang dirugikan saya loh. Akhirnya (dituduh) epok-epok dan macam-macam. Aku iso (saya bisa) lapor polisi. Tapi apakah gerangan, itu artinya saya akan membunuh karakter mereka,” katanya.

Ia menegaskan, meski secara hukum dirinya memiliki peluang untuk melaporkan, jalur tersebut bukan pilihan yang ia ambil. Baginya, kesalahan anak muda tidak seharusnya langsung “dihabisi” dengan hukuman berat.

“Yang punya potensi ketika kita dia punya kesalahan, terus saya bunuh (karir dan karakternya), maka dia tidak punya potensi lagi,” lanjut Eri.

Menjawab anggapan publik bahwa istilah “epok-epok” seolah memvalidasi tuduhan bahwa dirinya sering berbohong, Eri kembali menegaskan tidak pernah ada arahan sedikit pun kepada timnya untuk mengatur konten.

“Kalau aku loh, Pak. Saya itu kan anak-anak muda ya, yang kita rekrut. Sama seperti saya juga kan anak-anak muda yang kita rekrut. Anak-anak muda yang punya potensi,” katanya.

Terkait salah satu anggota tim medsos yang akhirnya memilih mengundurkan diri, Eri justru meminta yang bersangkutan agar tidak merasa hancur dan menjadikan peristiwa itu sebagai proses pembelajaran. Baginya, memaafkan adalah bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin.

“Tapi saya bilang, ‘karena kamu anak muda lakukan perubahan. Tapi kamu belum siap untuk menjadi orang yang terdekat dengan saya’,” tuturnya. (bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 23 Januari 2026
26o
Kurs