Minggu, 18 Oktober 2026

Gelombang Demo Besar di Prancis, KBRI Paris Imbau WNI Tingkatkan Kewaspadaan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Aksi pelajar dan mahasiswa di Prancis. Foto: Anadolu

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris mengimbau seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Prancis meningkatkan kewaspadaan dan menghindari kerumunan demonstrasi, menyusul gelombang aksi protes besar yang berpotensi mengganggu keamanan.

Heni Hamidah Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengatakan, KBRI Paris terus memantau perkembangan situasi keamanan, terutama setelah demonstrasi besar yang terjadi di Paris pada Sabtu (17/10/2026).

“KBRI Paris telah menyampaikan imbauan kepada seluruh WNI di wilayah kerja agar senantiasa berhati-hati dan mencermati perkembangan situasi keamanan,” kata Heni dalam pernyataan tertulis, Minggu (18/10/2026), dilansir dari Antara.

Berdasarkan catatan KBRI Paris, tidak ada WNI yang terlibat dalam demonstrasi tersebut. Meski demikian, aksi protes berdampak pada aktivitas masyarakat, mulai dari perubahan jadwal sekolah, gangguan operasional transportasi umum, hingga kemacetan lalu lintas.

Karena itu, WNI diminta terus mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat dan menyesuaikan rencana perjalanan apabila terdapat penutupan jalan atau pengalihan rute.

Heni memastikan KBRI Paris akan terus memantau kondisi keamanan dan menjaga komunikasi dengan masyarakat Indonesia di Prancis. Dalam keadaan darurat, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Paris melalui nomor +33-6-2112-2109.

Sebagai informasi, gelombang demonstrasi di Prancis berlangsung sejak pertengahan September 2026. Aksi yang banyak diikuti siswa sekolah menengah atas tersebut menuntut tambahan anggaran pendidikan, perbaikan kondisi belajar, penambahan tenaga pengajar, serta perubahan mekanisme seleksi masuk perguruan tinggi.

Para pelajar juga melakukan pemblokiran di sejumlah sekolah dan universitas. Dalam beberapa kejadian, demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan.

Merespons tuntutan tersebut, Edouard Geffray Menteri Pendidikan Prancis mengatakan pemerintah sedang meninjau sistem penerimaan mahasiswa melalui Parcoursup, platform pendaftaran perguruan tinggi yang menjadi salah satu sasaran protes.

Pemerintah Prancis juga menyatakan telah menempatkan sekitar dua pertiga dari 3.000 guru pengganti yang sebelumnya dijanjikan ke sejumlah sekolah.

Di sisi lain, aparat keamanan mencatat sebanyak 1.260 orang telah ditangkap di wilayah metropolitan Paris sejak gelombang demonstrasi pelajar dimulai hingga, Kamis (15/10/2026). Dari jumlah tersebut, sekitar 86 persen merupakan anak di bawah umur. (ant/bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Minggu, 18 Oktober 2026
32o
Kurs