Perkembangan gim game menghadirkan tantangan baru dalam upaya mencegah intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Platform yang umumnya digunakan sebagai sarana hiburan berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan propaganda kekerasan hingga merekrut anak muda yang rentan terpapar paham ekstrem.
Angel Damayanti Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) menegaskan, gim daring bukan penyebab langsung radikalisme.
Risiko muncul ketika fitur komunikasi dan interaksi di dalamnya dimanfaatkan kelompok ekstremis untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, hingga merekrut individu yang rentan.
“Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda,” ujar Rektor UKI periode 2026–2030 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Peneliti Senior Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI tersebut menjelaskan, kerentanan dapat muncul dari interaksi sosial berulang yang membangun ikatan emosional, penggunaan identitas anonim, serta kebebasan pemain membuat skenario dan simbol dalam permainan.
Menurut Angel, pemanfaatan gim daring oleh kelompok radikal telah terdeteksi sejak dekade 1980-an dan berkembang seiring kemajuan teknologi digital.
Pada 2014, kelompok ISIS mulai memanfaatkan gim seperti Call of Duty untuk menarik perhatian publik dan menyebarkan propaganda.
Risiko tersebut semakin berkembang ketika fitur permainan memungkinkan kustomisasi konten. Angel juga menyebut bahwa pada Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi pola rekrutmen yang mengarahkan anak muda dari platform gim ke grup percakapan tertutup, seperti WhatsApp atau Telegram, untuk membangun komunikasi yang lebih intensif.
Angel menilai gim yang terbuka bagi berbagai kelompok usia, mengusung simulasi militer atau peperangan, serta memungkinkan pengguna membuat konten sendiri perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan.
Namun, penanganan risiko tersebut tidak cukup hanya dengan membatasi akses atau memblokir konten. Keluarga, menurut Angel, memiliki peran penting dalam membangun ketahanan anak terhadap propaganda ekstremisme.
Orang tua perlu mengenali gim yang dimainkan anak, menetapkan aturan penggunaan perangkat digital, mengaktifkan fitur keselamatan, serta membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi.
Perubahan perilaku yang mendadak, seperti kecenderungan mengisolasi diri, kebencian intens terhadap kelompok tertentu, atau keterlibatan dalam komunitas yang mengagungkan kekerasan, juga perlu menjadi perhatian.
Di tingkat kebijakan, Angel mendorong pemerintah memperkuat kolaborasi antara BNPT, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta masyarakat.
Pendekatan pencegahan perlu bergeser dari sekadar pemblokiran konten menuju tata kelola keamanan digital berbasis risiko.
“Di samping itu, pendekatan Indonesia harus bergerak dari sekadar pemblokiran konten menuju tata kelola keamanan digital yang berbasis risiko. Tata kelola tersebut harus berlandaskan prinsip *whole of government* dan *whole of society*,” ungkapnya.
Sejumlah langkah yang diusulkan meliputi penilaian risiko fitur komunikasi gim oleh Komdigi, pembentukan mekanisme koordinasi penanganan ancaman antara BNPT, Komdigi, dan Polri, serta pengembangan sistem deteksi dini yang menggabungkan teknologi dan analisis manusia.
Angel juga mendorong agar literasi gim dan keamanan digital dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Selain itu, BNPT bersama perguruan tinggi dapat mengembangkan basis data risiko yang terukur, disertai kerja sama internasional dengan penyedia gim global.
“Melalui kombinasi pencegahan di tingkat keluarga, literasi digital, dan regulasi yang kolaboratif, ekosistem gim daring di Indonesia dapat tetap aman serta terbebas dari bahaya intoleransi dan terorisme,” pungkas Angel. (saf/iss)
NOW ON AIR SSFM 100

