Sabtu, 11 April 2026

Hadapi Godzilla El Nino, Pemerintah Maksimalkan Kapasitas Bendungan

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Bendungan PUPR Ilustrasi bendungan yang sudah dibangun Kementerian PUPR RI. Foto: Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR RI.

Dody Hanggodo Menteri Pekerjaan Umum (PU) mengatakan bahwa pemerintah mengisi penuh bendungan guna menghadapi dampak El Nino ekstrem atau Godzilla El Nino untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

Ia menerangkan, tahapan mitigasi terhadap dampak El Nino mulai dilakukan sejak beberapa waktu lalu dengan pengelolaan sumber daya air terintegrasi di berbagai wilayah yang memiliki bendungan utama.

“Kalau masalah mitigasi terhadap El Nino, itu sebenarnya sudah kita mulai. Kementerian PU sudah mulai,” ungkap Dody pada Sabtu (11/4/2026).

Seluruh volume bendungan telah diupayakan dalam kondisi maksimal sebagai penyedia pasokan kebutuhan irigasi meski curah hujan diperkirakan akan berkurang drastis selama musim kemarau panjang berlangsung.

Salah satunya adalah Bendungan Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogori, Jawa Tengah, yang diperkirakan dapat mengairi lahan pertanian hingga September atau Oktober 2026 tanpa hujan apabila kapasitas airnya penuh sesuai batas maksimal yang ditentukan.

“Beberapa saat lalu saya kan jalan-jalan ke Bendungan Gajah Mungkur. Saya pengen melihat seperti apa kondisi (Bendungan) Gajah Mungkur dan di situ saya dikasih info memang sekarang semua bendungan sedang posisi berusaha dibikin penuh,” katanya.

Meski begitu, Dody mengimbau kemampuan bendungan memiliki keterbatasan waktu sehingga perlunya mitigasi lain apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dari periode yang dapat ditopang cadangan air tersebut.

Melansir Antara, salah satu langkah lain pemerintah dalam menghadapi fenomena Godzilla El Nino adalah dengan persiapan operasi modifikasi cuaca yang menargetkan wilayah hulu bendungan.

Hal tersebut dilakukan agar hujan buatan mampu menambah suplai air yang mengalir ke waduh secara optimal, serta menghindari risiko kesalahan yang dapat menimbulkan dampak lebih besar pada pengelolaan air.

“Operasi modifikasi cuaca, menghujani hulu-hulu dari pada bendungan itu. Jadi hulu-hulunya dihujani, airnya tetap turun ke bendungan. Kita tidak melakukan operasi modifikasi cuaca di bendungan karena kita takut meleset. Kalau meleset kita lebih repot lagi. Jadi pengalaman kita lebih baik melakukan operasi modifikasi cuaca di hulu-hulu bendungan,” terang Dody.

Selain itu, Kementerian PU bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk menyiapkan pompa air berukuran kecil untuk memastikan pasokan air tersedia di lahan pertanian yang mengalami kekeringan.

Penggunaan pompa tersebut akan diutamakan pada wilayah yang mengalami kemerosotan debit air secara drastis agar distribusi air tetap terjaga di tengah keterbatasan sumber air.

Dody juga menyebutkan adanya permasalahan baru yaitu ketersediaan jaringan irigasi yang belum memadai di beberapa wilayah, sehingga pihaknya mendorong agar pembangunan irigasi tersier dapat dilakukan sebagai solusi permsalahan.

Mengenai anggaran, ia mengatakan saat ini belum dapat merinci kebutuhan dana secara pasti, tetapi tetap memastikan program tersebut menjadi program prioritas sesuai arahan Prabowo Subianto Presiden untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

Pemerintah akan melakukan penyesuaian anggaran dengan menimbang program yang dinilai kurang menjadi prioritas agar upaya mitigasi El Nino berjalan dengan optimal dan tidak terjadi kegagalan target swasembada pangan.

“Karena kalau itu gagal, kan berarti swasembada pangan di tahun 2026-2027 bisa gagal,” tutur Dody. (ant/vve/saf/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Sabtu, 11 April 2026
30o
Kurs