Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto menyatakan, hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan pelajar diperkirakan paling cepat keluar pada Senin (12/1/2026) besok.
Dyan Anggrahini Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto mengatakan, hasil uji laboratorium merupakan hal penting. Namun, sesuai arahan Emil Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), dia menjelaskan bahwa yang lebih utama adalah menelusuri penyebab munculnya bakteri dalam makanan yang disajikan.
“Bahwa kita tidak hanya terpaku pada hasil uji lab, karena kalau hasil lab nanti pasti akan muncul bakteri dan yang lain-lain. Tapi pesan beliau, jangan berhenti di situ. Yang harus dispesifikkan adalah kenapa bakteri itu bisa muncul,” katanya pada Minggu (11/1/2026).
Dia mengatakan, hampir semua kasus keracunan makanan umumnya menunjukkan adanya bakteri. Namun, hal utama yang harus ditelusuri adalah faktor pemicu munculnya bakteri tersebut, apakah berasal dari proses pengolahan, distribusi, atau tentang waktu konsumsi MBG.
“Bukan hanya menyimpulkan makanan ini mengandung bakteri, tapi kenapa bakteri itu bisa ada. Apa karena jarak waktu antara penyajian, penerimaan, dan konsumsi oleh anak-anak, sehingga nanti ke depannya itu bisa jadi kajian untuk tempat yang lain,” jelasnya.
Sambil menunggu hasil uji laboratorium keluar, Dinkes Kabupaten Mojokerto mengeluarkan sejumlah imbauan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan penerima manfaat MBG.
Pertama, SPPG diminta benar-benar mematuhi standar pengolahan makanan sehat, mulai dari tahap persiapan, proses memasak, hingga pengiriman makanan ke sekolah-sekolah.
Kedua, SPPG bersama sekolah diminta memberikan edukasi kepada penerima manfaat, khususnya siswa, terkait cara dan waktu mengonsumsi makanan MBG.
“Karena dari kejadian di Kabupaten Mojokerto ini, banyak anak-anak yang makanannya tidak dimakan di sekolah, tapi dibawa pulang. Dan akhirnya bisa jadi waktu makanan ini sebenarnya sudah tidak layak untuk dimakan, karena waktunya, bukan karena proses yang awalnya,” ujarnya.
Dinkes juga mengingatkan agar murid tidak mengonsumsi makanan jika tercium aroma yang tidak normal. Pihaknya berharap, edukasi terkait hal itu bisa dilakukan oleh pihak sekolah.
Ia mengatakan bahwa kolaborasi dengan stakeholder sudah berjalan, namun menurutnya ke depan perlu ditingkatkan mengingat program MBG tergolong baru.
Seperti diketahui, Dinkes Kabupaten Mojokerto mencatat ada sebanyak 261 murid yang mengalami keracunan diduga karena MBG, 121 di antaranya dirawat di rumah sakit hingga puskesmas.
Ratusan murid dari jenjang PAUD hingga SMA di sejumlah sekolah di Kabupaten Mojokerto yang mengalami keracunan itu, terakhir makan MBG dengan menu soto, telur dan ayam bumbu kuning yang dibagikan pada Jumat (9/1/2026) kemarin. (ris/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
