Sabtu, 3 Januari 2026

Hasil TKA SMA Anjlok, Guru Besar Unair Sebut Pengaruh Distraksi Digital dan Gaya Hidup Instan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi - Anak yang sedang belajar di sekolah. Foto: iStock

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada 23 Desember lalu mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA. Namun, hasil TKA menunjukkan penurunan nilai yang cukup signifikan di berbagai mata pelajaran.

Untuk jenjang SMA, nilai rata-rata TKA tercatat Bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Sementara pada jenjang SMK, nilai rata-rata TKA Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,55.

Menanggapi hal ini, Prof Dr Tuti Budirahayu Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya turut buka suara. Menurutnya, rendahnya hasil TKA tidak terlepas dari persepsi siswa terhadap ujian tersebut.

Prof Tuti berpendapat, ada dua faktor yang mendalanig. Pertama, banyak siswa kini menganggap TKA bukan ujian penentu masa depan, berbeda dengan Ujian Nasional (UN) atau Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Artinya, ada indikasi mereka menganggap esensi TKA tersebut tak sepenting UN atau SNBP.

“Dua jenis ujian tersebut, dikenal sangat efektif membuat siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan menjadi alat seleksi yang cukup baik untuk menyaring siswa-siswa yang berprestasi. Bahkan saking menakutkannya jenis ujian tersebut, cara-cara curang ditempuh oleh siswa yang memang tidak memiliki moral dan etika baik untuk, demi dapat lolos dari dua jenis ujian tersebut,” ujar Prof Tuti dalam keterangannya yang diterima suarasurabaya.net, Sabtu (3/1/2026).

Sementara faktor kedua menurut Prof Tuti, adalah pengaruh era digital yang sangat kuat terhadap perilaku belajar siswa masa kini. Banyak siswa yang terpapar oleh gaya hidup instan layaknya yang muncul di media sosial, di mana mereka sering melihat orang-orang yang sukses dalam waktu singkat. Seolah-olah kesuksesan itu bisa diraih dengan mudah.

“Siswa SMA saat ini telah mengalami distraksi digital melalui paparan gawai, baik dalam bentuk tayangan di media sosial, seperti Instagram dan TikTok atau game, yang melemahkan daya kritis, konsentrasi jangka panjang yang juga melemah, dan juga melemahkan ketekunan membaca serta berpikir analitis,” terang Dosen Fisip Unair itu.

Cerminan Kualitas Pembelajaran di Sekolah

Selain faktor-faktor tersebut, Prof Tuti juga menyoroti masalah yang lebih mendalam, yakni terkait dengan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Menurutnya, TKA bisa dianggap sebagai cermin dari kualitas pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah tersebut.

Jika kualitas pengajaran rendah, maka hasil ujian yang siswa peroleh juga tidak akan memuaskan. Hal ini bisa dilihat sebagai indikasi bahwa metode pembelajaran yang digunakan selama ini belum cukup efektif dalam membantu siswa memahami konsep secara mendalam.

“Jika ini yang terjadi maka harus ada upaya reformasi pendidikan besar-besaran. Di mana metode dan orientasi pembelajaran harus ditata ulang. Tidak lagi siswa disuguhi materi belajar hafalan tetapi sudah harus menuju model pembelajaran yang menekankan penalaran, pemahaman konsep dan cara-cara berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS),” kata Prof Tuti.

Solusi: Reformasi Pendidikan dan Pendampingan Siswa

Karenanya untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut, Prof Tuti menekankan pentingnya mengembalikan makna belajar kepada siswa. Materi pelajaran perlu dikaitkan dengan isu aktual dan tantangan nyata di dunia kerja, agar lebih relevan dan kontekstual.

Selain itu, literasi digital kritis juga perlu diperkuat agar teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kualitas belajar, bukan sekadar sumber distraksi.

Ia juga menegaskan perlunya reformasi pendidikan yang menyentuh kualitas sumber daya manusia, khususnya guru, serta pengurangan kesenjangan pendidikan antardaerah dan antarsekolah.

“Menata ulang kualitas guru-guru sebagai SDM utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan atau anak didiknya, serta meminimalisir kesenjangan atau ketimpangan pendidikan antarwilayah atau daerah, antarsekolah negeri dan swasta, dan antarsekolah yang dikelola oleh kementerian yang berbeda,” imbuhnya.

Terakhir, Prof Tuti menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah dalam mendampingi proses belajar siswa. Contohnya program-program mentoring dan konseling di sekolah perlu diperkuat untuk membantu siswa yang membutuhkan perhatian khusus, baik itu dalam bentuk pendampingan akademik maupun masalah psikologis.

“Kerja sama antara semua pihak ini akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh, baik secara akademik maupun emosional,” pungkasnya.(bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Sabtu, 3 Januari 2026
32o
Kurs