Senin, 12 Oktober 2026

IDAI Ingatkan Jangan Beri Telur Mentah ke Bayi dan Anak, Risiko Infeksi Salmonella

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi. Bayi. Foto: Pixabay

Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan risiko infeksi bakteri salmonella akibat pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi.

dr. Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Pengurus Pusat IDAI mengatakan, bakteri salmonella bisa menyebabkan diare, demam, muntah, hingga dehidrasi, bahkan berpotensi menimbulkan komplikasi serius pada bayi.

“Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis,” terangnya dalam pernyataan resmi IDAI, Senin (12/10/2026).

Pada bayi dan anak kecil, ia menyebut infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

“Telur mentah bukan makanan yang sesuai untuk bayi,” ujarnya.

Selain risiko infeksi, ia mengatakan bahwa pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi juga tidak memberi keuntungan gizi.

IDAI merekomendasikan orang tua agar mengutamakan air susu ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Apabila ASI tidak dapat diberikan, penggunaan susu formula bayi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan indikasi medis.

Sementara makanan pendamping ASI (MPASI) dapat diberikan pada bayi usia 6 bulan sebagai rekomendasi umum. Tapi dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia 4 bulan berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi.

Beberapa tanda kesiapan bayi menerima MPASI yakni, mampu mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil, dapat duduk dengan bantuan dan mempertahankan posisi tubuh yang memadai, menunjukkan koordinasi gerakan mulut dan kemampuan menelan makanan dengan tekstur yang sesuai, serta menunjukkan ketertarikan terhadap makanan dan mulai mampu menerima makanan dari sendok.

“Kesiapan tersebut harus dinilai secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan satu tanda,” imbuhnya.

Dalam masa pemberian MPASI, telur baru bisa diperkenalkan sebagai salah satu bahan makanan bayi dengan tetap memperhatikan kematangan proses masak, serta tekstur yang disesuaikan dengan kemampuan makan bayi.

“Jangan memberikan MPASI sebelum usia 4 bulan, termasuk telur mentah, telur setengah matang, bubur, atau makanan lain yang tidak sesuai dengan usia bayi,” ucapnya.

Pemberian telur, lanjut dia, juga harus tetap memperhatikan kebersihan dan keamanan pengolahan makanan, termasuk mencuci tangan dan peralatan, mencegah kontaminasi silang, menyimpan telur dengan benar, serta menghindari penggunaan telur yang retak atau rusak.

“Pemberian makanan pada bayi harus didasarkan pada prinsip kecukupan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan,” ucapnya.

Menurutnya, telur tetap bisa diberikan dalam masa MPASI kecuali terdapat pertimbangan medis khusus.

IDAI menekankan, agar orang tua senantiasa mengikuti rekomendasi pemberian makan yang berbasis bukti ilmiah, karena keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama.

“Konsultasikan dengan dokter apabila terdapat keraguan mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan makan, maupun pilihan makanan yang aman bagi bayi,” pungkasnya.(ris/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Surabaya
Senin, 12 Oktober 2026
34o
Kurs