Selasa, 7 April 2026

Indonesia Masuki Fase Penurunan Pertumbuhan Penduduk, Bappenas Dorong Penguatan Silver Economy

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Maliki Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas. Foto Humas Bappenas

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas) mengungkap Indonesia tengah memasuki fase penurunan laju pertumbuhan penduduk, dengan proporsi lansia yang terus meningkat.

Melihat fenomena tersebut, Maliki Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas mendorong penguatan silver economy. Di mana lansia tidak dipandang sebagai beban, tapi potensinya dioptimalkan dengan pengembangan layanan kesehatan, hunian ramah lansia, serta teknologi pendukung.

“Di sisi lain, isu care economy (ekonomi perawatan) juga mendapat perhatian serius, mengingat beban perawatan anak dan lansia selama ini belum terbagi secara proporsional dan cenderung ditanggung oleh perempuan, yang berujung pada time poverty (kemiskinan waktu),” kata Maliki pada keterangan tertulisnya, Senin (6/4/2026).

Untuk menunjang penguatan silver economy, Bappenas meluncurkan dokumen strategis berbasis analisis National Transfer Accounts (NTA), yang dirancang untuk memahami dinamika kependudukan sekaligus mendukung perencanaan pembangunan yang lebih adil lintas generasi.

“Jika selama ini kita berbicara tentang bonus demografi hanya berdasarkan jumlah anak, usia produktif, dan lansia melalui batasan usia yang sederhana (cut-off), maka melalui NTA kita dapat mengetahui produktivitas riil dari kelompok usia tersebut,” ungkap Maliki.

NTA merupakan metode internasional untuk mengukur aliran sumber daya ekonomi antar kelompok usia, sehingga memungkinkan pemerintah merancang kebijakan berbasis siklus hidup dan keadilan antargenerasi.

Melalui pendekatan tersebut, analisis NTA diharapkan menjadi kompas baru bagi pemerintah dalam memetakan aliran sumber daya ekonomi lintas usia.

“Paling penting adalah support systemnya. NTA ini kita harapkan bisa menjadi tools bagi kita untuk menyusun kebijakan-kebijakan itu, terutama kebijakan aging population kita,” katanya.

Buku ini digunakan untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, dengan menekankan enam arah transformasi, yaitu:

1. Investasi sumber daya manusia sejak dini melalui penguatan gizi, kesehatan, dan pendidikan anak.
2. Reformasi pasar kerja melalui transformasi pendidikan vokasi dan sistem pengupahan berbasis kompetensi.
3. Peningkatan produktivitas perempuan melalui penyediaan fasilitas pengasuhan anak dan sistem kerja fleksibel.
4. Penguatan jaring pengaman sosial melalui reformasi sistem pensiun yang berkelanjutan bagi lansia.
5. Pengembangan care economy sebagai sumber lapangan kerja formal baru.
6. Pemerataan wilayah melalui sinkronisasi pembangunan inklusif antara Indonesia Barat dan Timur.(lea/lta/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Selasa, 7 April 2026
29o
Kurs