Kontingen Jawa Timur menyumbangkan tiga dari sembilan penghargaan yang diraih Indonesia dalam WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026.
Tiga penghargaan tersebut terdiri atas satu medali perak yang diraih Edsel Parama Mustapa, alumni SMKS PGRI 3 Malang/Poltek Astra, pada bidang Software Applications Development dan dua Medallion for Excellence yang diraih oleh Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi, alumni SMKN 1 Jenangan Ponorogo, pada bidang Mechatronics beregu.
Aries Agung Paewai Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur mengapresiasi capaian perwakilan Jatim yang mengikuti kompetisi keterampilan vokasi tingkat dunia tersebut.
“Alhamdulillah perwakilan Jawa Timur dari tujuh orang perwakilan, tiga di antaranya membawa pulang medali, yakni satu Silver Medal dan dua Medallion for Excellence,” terangnya, Jumat (2/10/2026).
Aries mengatakan, capaian tersebut menunjukkan bahwa talenta vokasi Jatim mampu bersaing dalam kompetisi keterampilan yang mempertemukan peserta dari berbagai negara dengan standar profesi dan industri internasional.
Kendati demikian, ia tetap menekankan bahwa prestasi di WorldSkills Shanghai tetap perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pendidikan vokasi, terutama dari sisi persiapan peserta.
Ia mengatakan persiapan peserta perlu dilakukan lebih matang karena kompleksitas kompetisi berkaitan erat dengan kurikulum pendidikan vokasi, baik di tingkat SMK maupun perguruan tinggi.
Menurutnya, pendidikan vokasi perlu terus diselaraskan dengan standar kompetensi internasional agar lulusan memiliki kemampuan yang mampu bersaing di tingkat global.
Selain kompetitor, ia juga menyoroti peran expert yang mendampingi peserta. Menurutnya, kemampuan expert, trainer, peralatan, metode latihan, hingga lingkungan training perlu terus dievaluasi agar semakin mendekati standar negara-negara yang menjadi benchmark.
“Expert perannya juga sama pentingnya dengan kompetitor. Seberapa dekat kompetensi expert, trainer, peralatan, metode latihan, dan lingkungan training Indonesia dengan negara-negara yang menjadi benchmark,” ujarnya.
Pihaknya berharap, pemerintah dapat mengintensifkan training center bagi calon kontingen WorldSkills untuk mematangkan persiapan sebelum mengikuti kompetisi tingkat dunia.
Menurutnya, keterlibatan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA) juga perlu diperkuat, karena WorldSkills tidak bisa dipisahkan dari pengalaman serta kebutuhan industri.
“WorldSkills ini ajang yang sangat bergengsi. Ini kesempatan bagi peserta menunjukkan kompetensi vokasi. Banyak mata DUDIKA dunia tertuju di sini,” tuturnya.
Sementara itu, Edsel Parama Mustapa peraih medali perak bidang Software Applications Development, mengatakan bahwa dirinya menjalani pelatihan selama enam bulan dengan mengerjakan soal-soal baru setiap hari sebelum kompetisi.
“Dari awal saya tidak berekspektasi untuk mendapatkan. Tapi Alhamdulillah saya bisa dapat,” ucapnya.
Dalam kompetisi tersebut, Edsel mengerjakan proses pengembangan aplikasi mulai dari perencanaan, pembuatan, hingga pengujian. Aplikasi yang dibuat ditujukan untuk perangkat Android dan dapat diterapkan dalam dunia usaha dan industri.
Seperti diketahui, dalam WSC Shanghai 2026, Indonesia mengirim 20 kompetitor untuk mengikuti 17 bidang lomba dengan didampingi 17 expert dan technical delegate.
Indonesia membawa pulang sembilan penghargaan yang terdiri atas satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence. Hasil itu, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-19 dari 74 negara peserta.(ris/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

