Indria Wahyuni SH LLM PhD, dosen sekaligus alumni beasiswa LPDP S3 di University of Birmingham, Inggris dengan bangga menceritakan komitmennya kembali pulang dan berkontribusi untuk Indonesia setelah lulus studi.
Ia menanggapi ulah Dwi Sasetyaningtyas (DS) alumni LPDP yang viral menuai sorotan usai bangga menunjukkan paspor kewarganegaraan Inggris yang berhasil ia dapatkan untuk anaknya.
Menurutnya ulah Sasetyaningtyas bukan cerminan semua alumni. Indria dan teman-temannya memilih pulang ke Indonesia, berperan dengan caranya masing-masing.
“Saya juga tidak tahu, apa, bagaimana, backgroundnya, lalu tiba-tiba posting seperti itu dan viral,” ungkapnya saat mengudara di Program Wawasan Radio Suara Surabaya, Selasa (3/3/2026).
Ia menyadari anggaran UK dan Indonesia untuk penduduk berbeda, terlebih jumlah warga yang tinggal, sehingga tidak bisa dibandingkan, namun Indonesia tetaplah negaranya.
“Kalau memang enggak bisa mendapatkan semua itu, tapi kita bisa berkontribusi di bidang lain. Di sana kita dapat wawasan bagaimana tata kelola yang benar, jaminan pemerintah terhadap masyarakat ini masukan untuk kita melakukan sesuatu,” bebernya.
Indria menekankan, sebagai penerima LPDP harus mempunyai pola pikir sebagai duta negara, yang menghargai kesempatan belajar untuk pulang dan berkontribusi untuk negara dan masyarakat.
“Ada kontraknya bahwa kita akan kembali ke Indonesia. Dalam kontrak itu dijelaskan bahwa kita tidak akan berperilaku negatif di negara tujuan, karena akan memalukan, dan kedua kita akan kembali di Indonesia untuk mengabdi setelah selesai perkuliahan,” jelasnya.
Belum lagi kesempatan yang diberikan LPDP untuk membawa pasangan dan anak setelah menjalani masa studi dalam kurun waktu tertentu.
“Setelah jeda tertentu kita boleh membawa suami dan anak 1. Akan diberi 20% dari angka yang kita dapat bulanan. Itu ketentuan 2016, karena ketentuannya berubah-ubah,” ungkapnya.
Ia tidak menormalisasi alasan masih banyaknya kekurangan di Indonesia menjadi pemicu alumni tidak mau kembali. Sebaliknya, seharusnya mencintai negeri dengan memaksimalkan kontribusi.
Terakhir ia mengapresiasi LPDP yang banyak memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa kurang beruntung seperti dirinya, yang tidak pernah terpikirkan kuliah. Namun ia sepakat LPDP perlu dievaluasi total.
“Seleksi dari awal harus transparan, lalu diberikan requirement, lalu dilakukan sampai yang bersangkutan mengabdi ke bangsa dengan kemampuan. Jadi kita evaluasi total,” ungkapnya.
Alumni harus kembali dan menerapkan kemampuan yang berhasil diserap, tapi negara atau pemerintah juga harus memberikan ruang alumni untuk berkiprah. (lta/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
