Senin, 5 Januari 2026

Iran Tegas Tolak Campur Tangan AS Usai Trump Beri Peringatan soal Demonstran

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran. Foto: Anadolu

Seyed Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran menegaskan komitmen negaranya untuk “secara tegas menolak” segala bentuk campur tangan asing dalam urusan internal Iran.

Melansir Antara, Minggu (4/1/2026), pernyataan ini disampaikan menyusul peringatan Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) yang menyebut akan bertindak jika Iran “membunuh para demonstran damai”.

Melalui unggahan di platform media sosial X, Araghchi menegaskan kesiapan militer Iran menghadapi potensi pelanggaran kedaulatan negara. Ia mengatakan angkatan bersenjata Iran “dalam posisi siaga dan tahu persis ke mana harus membidik” jika kedaulatan negaranya dilanggar.

Pernyataan tersebut merupakan respons atas unggahan Trump sebelumnya di Truth Social, yang menyatakan Amerika Serikat akan “datang untuk menyelamatkan mereka” jika Iran menembaki para demonstran yang menggelar aksi damai.

Aksi unjuk rasa sendiri pecah di sejumlah kota di Iran sejak, Minggu 28 Desember lalu, dipicu oleh penurunan tajam nilai mata uang nasional Iran, rial.

Araghchi menyatakan unjuk rasa damai merupakan hak warga Iran yang terdampak oleh volatilitas nilai tukar. Namun, ia juga menyoroti adanya sejumlah insiden kekerasan yang terjadi secara terpisah, termasuk serangan terhadap sebuah kantor polisi serta aksi pelemparan bom molotov ke arah petugas keamanan.

Ia menegaskan bahwa serangan-serangan kriminal terhadap properti publik tidak dapat ditoleransi.

Sementara itu, media Iran pada, Kamis (1/1/2026) melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan 13 personel keamanan terluka dalam bentrokan saat aksi unjuk rasa di dua provinsi dalam 24 jam terakhir.

Saeid Pourali, Wakil Gubernur Bidang Politik, Keamanan, dan Sosial Provinsi Lorestan di Iran barat, mengaitkan gelombang unjuk rasa terbaru dengan persoalan ekonomi. Ia menekankan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat, termasuk volatilitas mata uang dan kekhawatiran soal mata pencaharian.

Menurut Pourali, kondisi tersebut dipicu oleh sanksi Barat yang disebutnya “kejam”.

Adapun nilai tukar rial memang melemah signifikan sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi. Saat ini, 1 dolar AS diperdagangkan di atas 1,35 juta rial di pasar terbuka. (ant/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perpaduan Macet dan Banjir di Kawasan Banyuurip-Simo

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Perpaduan Hujan dan Macet di Jalan Ahmad Yani

Surabaya
Senin, 5 Januari 2026
29o
Kurs