Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi mengenai program rudal dan senjata konvensionalnya. Namun, Teheran tetap membuka pintu dialog terkait aktivitas nuklir damai selama hak-haknya sebagai negara penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dijamin.
Pernyataan itu disampaikan seorang pejabat senior Iran yang tak disebutkan namanya, Jumat (24/1/2026).
“Kami tidak akan berbicara atau bernegosiasi apa pun yang terkait senjata konvensional kami, termasuk rudal. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat kami pertaruhkan,” ujar pejabat tersebut seperti dilansir Sputnik, Sabtu (24/1/2025).
Pejabat itu menegaskan, Iran hanya bersedia masuk dalam perundingan yang menjamin hak negara itu untuk mengembangkan program nuklir damai sesuai dengan ketentuan NPT.
“Pihak Iran akan menyambut baik negosiasi yang menjamin hak Iran untuk melakukan aktivitas nuklir damai berdasarkan NPT,” katanya.
Selain itu, Iran juga menyerukan agar sanksi sepihak terhadap negaranya segera diakhiri. Menurutnya, dialog yang tidak memiliki landasan saling menghormati hanya akan berujung pada kegagalan dan dimanfaatkan sebagai alasan untuk konflik baru.
“Kami tidak ingin memasuki negosiasi apa pun yang ditakdirkan untuk gagal dan kemudian dapat digunakan sebagai dalih lain untuk perang lain,” tegasnya.
Sementara itu, Rusia menyatakan bahwa kerja sama di bidang energi nuklir damai dengan Iran seharusnya dilakukan dengan syarat yang sama seperti negara non-nuklir lainnya.
Maria Zakharova Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, Moskow memandang Iran berhak mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai selama sesuai dengan aturan internasional.
“Kerja sama di bidang energi nuklir damai dengan Iran harus dilakukan dengan syarat yang sama seperti dengan negara non-nuklir lainnya,” kata Zakharova pada Jumat.
Ancaman dari Amerika Serikat
Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) pada akhir Desember lalu menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya.
Trump juga sempat mengancam akan melakukan serangan dahsyat terhadap Iran di tengah gelombang protes massal di negara tersebut, apabila ada demonstran yang tewas.
Pernyataan itu semakin memperkeruh hubungan Washington–Teheran yang selama ini sudah diwarnai ketegangan akibat isu nuklir, sanksi ekonomi, dan program persenjataan Iran.
Tapi, meski menolak perundingan soal rudal, Iran menegaskan tetap siap berdialog dengan AS. Namun, dialog itu harus didasarkan pada prinsip saling menghormati.
Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan bahwa Teheran terbuka untuk negosiasi, asalkan tidak ada tekanan, ancaman, atau syarat yang merugikan kedaulatan negaranya. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
