Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz tidak akan kembali seperti kondisi sebelumnya, khususnya bagi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini seiring upaya Teheran membentuk tatanan keamanan baru di kawasan Teluk Persia yang secara khusus mengecualikan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi AS dan Israel,” demikian bunyi unggahan IRGC di X.
Sekarang ini, IRGC disebut telah memasuki tahap akhir kesiapan operasional untuk menerapkan apa yang oleh pejabat Iran disebut sebagai “tatanan baru di Teluk Persia.”
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari setelah parlemen Iran menyetujui rancangan undang-undang di tingkat komite yang mengatur penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Melansir dari Anadolu, Media Iran melaporkan bahwa proposal tersebut berisi sejumlah poin, yakni biaya transit harus dibayar dalam Rial, larangan transit untuk AS dan Israel, serta pembatasan terhadap negara-negara yang berpartisipasi dalam sanksi sepihak terhadap Iran.
Draf tersebut juga mencakup ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan kedaulatan Iran atas selat tersebut, kewenangan angkatan bersenjatanya, keamanan maritim, isu-isu lingkungan, dan kerja sama hukum dengan Oman.
Sebelumnya, eskalasi terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sekutunya, seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan situs penerbangan.(mar/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
