Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Israel dan Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan militer gabungan ke Iran sejak Sabtu dini hari. Operasi berskala besar tersebut disebut telah menghantam lebih dari 2.000 target di berbagai wilayah Iran.
The Wall Street Journal mengungkap serangan dimulai pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat dan melibatkan operasi udara besar-besaran. Dua sumber yang mengetahui jalannya operasi menyebutkan pengeboman dilakukan secara terkoordinasi dan terencana.
Militer Israel menyatakan telah menembakkan ribuan amunisi serta melaksanakan lebih dari 700 sorti sejak awal penyerbuan. Target serangan mencakup sistem pertahanan udara, instalasi rudal balistik beserta peluncurnya, fasilitas intelijen, hingga pusat komando militer Iran.
Selain infrastruktur militer, sejumlah tokoh penting Iran dilaporkan turut menjadi sasaran. Di antaranya Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran, serta para komandan Islamic Revolutionary Guard Corps.
Seorang pejabat militer Israel mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa operasi ini telah dipersiapkan dalam waktu lama.
“Pasukan Israel dan Amerika Serikat bekerja sama selama berbulan-bulan untuk menyusun daftar target yang komprehensif. Ribuan jam dihabiskan untuk mengumpulkan intelijen dan mempersiapkan operasi,” ujarnya seperti dikutip surat kabar tersebut.
Dilansir dari Antara, laporan tersebut juga menyebut sejumlah pemimpin puncak Iran tewas dalam serangan yang diluncurkan pada Sabtu itu, termasuk Ali Khamenei. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Iran yang mengonfirmasi klaim tersebut.
Pemerintah Iran dilaporkan merespons dengan meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal. Target serangan balasan mencakup wilayah Israel, aset-aset Amerika Serikat, serta beberapa negara di kawasan Teluk.
Eskalasi ini memperburuk situasi keamanan regional yang sebelumnya telah memanas akibat serangan serupa pada Juni tahun lalu. Konflik kala itu berlangsung selama 12 hari sebelum akhirnya diumumkan gencatan senjata.
Analis menilai, operasi militer terbaru ini berpotensi memicu konflik lebih luas jika tidak segera dikendalikan melalui jalur diplomasi. Keterlibatan langsung dua kekuatan militer besar dalam satu operasi berskala masif dinilai sebagai perkembangan paling signifikan dalam dinamika geopolitik kawasan dalam beberapa tahun terakhir. (ant/ily/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
