Jumat, 16 Oktober 2026

ITS Sulap Limbah Pertanian Jadi Biochar di Lombok Timur

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Pelaksanaan bimbingan teknis pengolahan biochar dari limbah pertanian oleh TEP 21 ITS 2026 yang dipimpin oleh Grasianto (paling kanan) Ketua Tim TEP ITS. Foto: ITS Surabaya

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan teknologi pengolahan limbah pertanian menjadi biochar di kawasan transmigrasi Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Program itu dikembangkan untuk menjawab persoalan limbah, di tengah tingginya aktivitas pertanian masyarakat setempat, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai guna.

Grasianto Ketua Tim TEP ITS mengatakan, masyarakat Suela banyak menggantungkan perekonomiannya pada sektor pertanian. Aktivitas itu menghasilkan berbagai limbah biomassa, mulai dari tongkol jagung, sekam padi, hingga batang tembakau.

Kalau tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus menghilangkan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Menurut Grasianto, limbah pertanian tersebut diolah menjadi biochar melalui proses pirolisis, yaitu pemanasan biomassa dalam kondisi oksigen terbatas.

“Hasilnya berupa biochar itu sendiri yang dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sekaligus alternatif pemanfaatan limbah ke dalam sistem pertanian yang lebih produktif,” ujar Grasiatno dalam keterangannya yang diterima suarasurabaya.net, Kamis (15/10/2026).

Dalam pengembangannya, tim ITS melakukan sejumlah uji coba dengan variasi bahan baku, durasi, hingga suhu pembakaran. Hasilnya, tongkol jagung dan sekam padi membutuhkan proses sekitar tiga sampai empat jam dengan suhu 200-250 derajat Celsius.

Meski begitu, Grasianto menyebut proses pirolisis masih perlu disempurnakan agar suhu pemanasan lebih merata. Langkah tersebut diperlukan supaya kualitas biochar yang dihasilkan lebih konsisten.

Tak hanya menyediakan teknologi, tim ITS juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat agar nantinya mampu mengolah limbah secara mandiri.

“Selain teknologinya, kami berikan pelatihan, pendampingan, hingga penyediaan modul pengolahannya yang digunakan untuk implementasi dan replikasi kegiatan,” kata Grasianto.

Tim juga menyusun data dan kajian pemanfaatan limbah pertanian, termasuk strategi pengembangan usaha dan pemasaran. Harapannya, pengolahan biochar tidak hanya membantu mengatasi limbah, tapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

“Karena saat ini, kami memprioritaskan penyediaan teknologi, transfer pengetahuan dan keterampilan sebagai fondasi pengembangan selanjutnya,” imbuhnya.

Untuk menjaga keberlanjutan program, tim ITS bekerja sama dengan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Penyuluhan Pertanian Kecamatan Suela.

UPT tersebut diharapkan bisa melanjutkan pendampingan kepada kelompok tani sekaligus mengevaluasi perkembangan program setelah penugasan tim ITS selesai.

Melalui program tersebut, TEP 21 ITS 2026 berupaya membangun pengelolaan limbah pertanian yang berkelanjutan sekaligus mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, inovasi dan infrastruktur, serta kemitraan. (bil/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
30o
Kurs