Jumat, 1 Mei 2026

Jalur Pendakian Gunung Arjuno dan Welirang Dibuka Kembali 7 Mei 2026

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Gunung Arjuno Welirang. Foto: Unit Pengelola Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo

Unit Pengelola Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo merencanakan akan membuka kembali jalur pendakian di Gunung Arjuno dan Welirang, Jawa Timur pada Kamis, 7 Mei 2026 mendatang.

“Pembukaan pendakian (Arjuno dan Welirang) dilaksanakan pada 7 Mei 2026 tetapi untuk registrasi (pendaki) mulai pada 6 Mei 2025 dan dibuka secara online,” kata Ajat Sudrajat Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat UPT Tahura Raden Soerjo di Kota Malang, Jawa Timur pada Jumat (1/5/2026).

Sebelumnya, jalur pendakian di dua gunung tersebut ditutup sejak November 2025 dikarenakan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dan sebagai upaya pemulihan ekosistem.

Pembukaan ini pastinya juga mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca terkini.

Lalu untuk registrasi pendakian dapat diakses di laman tahurarsoerjo.dishut.jatimprov.go.id/sipenerang atau bisa juga melalui layanan di tiket pendakian.

Dalam lama tersebut, tertera juga angka tarif pendakian Gunung Arjuno, Welirang, dan Bukit Lincing, yaitu sebesar Rp20 ribu per orang per hari untuk pendaki Warga Negara Indonesia dan Rp200 ribu per orang per hari bagi pendaki warga negara asing.

Mengutip dari Antara, kuota pendakian harian yang dibuka oleh UPT Tahura Raden Soerjo berkisar antara 500 pendaki sampai dengan 550 pendaki.

Adapun empat titik pintu atau pos masuk ke jalur pendakian Gunung Arjuno dan Welirang, yakni melalui Lawang di Kabupaten Malang dan Sumber Brantas di Kota Batu. Selanjutnya, Tretes dan Tambaksari di Kabupaten Pasuruan.

“Syarat (pendakian) diantaranya KTP, surat keterangan izin orang tua bagi pendaki yang berusia 10-18 tahun, dan surat sehat (rumah sakit, puskesmas, dokter praktik, dan klinik),” jelasnya.

Selain itu, setiap pendaki diminta untuk mematuhi segala standar operasional prosedur pendakian yang telah ditetapkan. Termasuk di dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dengan wajib membawa turun sampah logistik sesuai jumlah yang dibawa ketika datang mendaki.

Ia menegaskan petugas di masing-masing pintu pos pendakian akan melakukan pengecekan dan menghitung jumlah logistik yang dibawa oleh para pendaki.

“Kalau misalnya dia membawa empat botol minuman air mineral maka turunnya harus membawa sebanyak empat botol itu juga. Jangan sampai ada yang membuang sampah sembarangan,” kata dia.(ant/mar/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Jumat, 1 Mei 2026
28o
Kurs