Selama TC, kata dia, Dindik Jatim menghadirkan sejumlah expert yang berpengalaman dan kerap terlibat dalam kompetisi OPSI tingkat nasional. Langkah tersebut menurutnya penting untuk membantu murid dan pembimbing dalam membaca peta kompetisi, memahami tahapan final, serta menyiapkan strategi menghadapi tim dari berbagai daerah.
“Alhamdulillah di OPSI kemarin kita diwakili 22 tim, yang terdiri dari sembilan tim dari jenjang SMA sederajat dan 13 dari jenjang SMP sederajat. Dari hasil itu kita berhasil membawa total sembilan medali,” imbuhnya.
Ia mengatakan, prestasi OPSI tidak hanya menjadi capaian kompetisi, tetapi juga menunjukkan pentingnya membangun budaya penelitian sejak jenjang sekolah karena dapat melatih murid untuk mengidentifikasi persoalan, menyusun solusi berbasis data, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Saat ini, lanjut dia, penelitian di tingkat satuan pendidikan cukup masif dilakukan melalui kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Lewat kegiatan itu, murid didorong untuk mengerjakan berbagai proyek penelitian dengan pendekatan problem solving, terutama terhadap persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar.
“Penelitian harus menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih menemukan masalah, melakukan penelitian, dan menghasilkan solusi. Ini yang akan membentuk kemampuan berpikir kritis dan inovatif mereka,” jelasnya.

NOW ON AIR SSFM 100

