Jembatan Pajarakan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, akan ditutup total selama 81 hari mulai besok Kamis tenggal 1 Oktober hingga 22 Desember 2026.
Penutupan dilakukan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali melalui PPK 1.1 Provinsi Jawa Timur untuk mendukung pekerjaan penggantian lantai jembatan.
Penutupan dan rekayasa lalu lintas tersebut merupakan bagian dari program preservasi jalan nasional. Langkah itu dilakukan untuk menjaga keselamatan sekaligus mendukung konektivitas jalur pantai utara (pantura) Jawa Timur.
Ayu Pertimasari Kepala Bidang Preservasi II BBPJN Jawa Timur-Bali mengatakan, penutupan total dipilih setelah pihaknya melakukan analisis risiko terhadap pekerjaan rehabilitasi jembatan.
Menurutnya, pekerjaan penggantian lantai membutuhkan penggunaan alat berat dan ruang kerja yang cukup. Karena itu, pergerakan alat berat selama proses pengerjaan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan skema lalu lintas.
“BBPJN Jawa Timur-Bali mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan dalam pelaksanaan preservasi, sesuai dengan UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” ungkap Ayu dalam keterangan resminya, Rabu (30/9/2026).
“Kami telah membuat analisis risiko proyek dan mitigasi risiko yang mencakup manuver alat berat selama masa pelaksanaan nanti, sehingga penutupan total sebagai opsi yang paling aman,” kata Ayu.

Penutupan Jembatan Pajarakan tersebut telah dikoordinasikan dengan sejumlah pihak, antara lain Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil), serta Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).
Koordinasi terkait penutupan dan rekayasa lalu lintas itu dilakukan di kantor BBPJN Jawa Timur-Bali pada Selasa, 29 September 2026.
Jembatan Bailey Disiapkan untuk Kendaraan Roda Dua dan Empat
Wahyu Wibowo PPK 1.1 Provinsi Jawa Timur menjelaskan pekerjaan penggantian lantai Jembatan Pajarakan mencakup pembongkaran struktur, pemasangan rangka baja atau stringer, pemasangan tulangan, pengecoran lantai jembatan, penghamparan hotmix, pemasangan expansion joint, hingga marka jalan.
Salah satu pekerjaan utama adalah penggantian balok stringer. Dalam rencana penanganan, jumlah balok pada bagian tertentu akan ditambah dari lima menjadi enam buah per segmen untuk memperkuat struktur jembatan.
“Karena ini salah satu pekerjaan utama adalah penggantian balok stringer. Dalam rencana penanganan, jumlah balok stringer pada bagian tertentu akan ditambah dari lima menjadi enam buah per segmen. Penambahan tersebut dilakukan untuk memperkuat struktur sesuai kebutuhan penanganan jembatan,” kata Wahyu.
Untuk mengantisipasi kemacetan selama rehabilitasi, BBPJN Jawa Timur-Bali telah menyiapkan Jembatan Bailey yang berada tepat di sisi selatan Jembatan Pajarakan.
Jembatan Bailey tersebut dapat digunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan sistem buka-tutup satu lajur secara bergantian.
Sementara kendaraan roda enam atau lebih akan diarahkan menggunakan Jalan Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) atau jalur lintas selatan melalui Lumajang–Jember–Banyuwangi dan sebaliknya.
Petugas juga disiagakan dan rambu-rambu peringatan akan dipasang di sejumlah titik untuk mendukung pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung.
“Sedangkan untuk kendaraan roda enam atau lebih akan diarahkan menggunakan Jalan Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi) atau Lintas Selatan melewati Lumajang-Jember-Banyuwangi dan sebaliknya. Dan kami juga telah menyiagakan petugas serta memasang rambu- rambu peringatan. Kami juga berharap dukungan dari seluruh elemen masyarakat, agar rehabilitasi Jembatan Pajarakan berjalan lancar dan tepat waktu,” ungkap Wahyu.
Jembatan Pajarakan dibangun pada 1990 dengan panjang 45,70 meter dan lebar 9 meter. Jembatan tersebut menggunakan struktur atas tipe Rangka Baja Australia (RBA) dan menjadi salah satu penghubung jalur Surabaya–Banyuwangi.
Penurunan kapasitas pada beberapa bagian jembatan membuat infrastruktur tersebut perlu mendapatkan perbaikan menyeluruh. Melalui rehabilitasi ini, BBPJN Jawa Timur–Bali menargetkan keandalan infrastruktur jalan dan jembatan tetap terjaga, khususnya untuk mendukung konektivitas jalur Pantura Jawa Timur. (ham/rid)

NOW ON AIR SSFM 100

