Jumat, 20 Maret 2026

Jet Tempur Siluman Canggih AS Mendarat Darurat Diduga Kena Tembakan Pertahanan Iran

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Jet tempur siluman canggih F-35 Lightning II milik Amerika Serikat (AS). Foto: Military.com

Sebuah jet tempur siluman canggih F-35 Lightning II milik Amerika Serikat dilaporkan melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara kawasan Timur Tengah, setelah menjalankan misi tempur di Iran. Pesawat itu diduga terkena tembakan pertahanan Iran saat menjalankan misi.

Tim Hawkins Juru bicara Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), mengatakan insiden tersebut terjadi pada, Kamis (19/3/2026). Ia menyebut pesawat berhasil mendarat dengan aman dan kondisi pilot stabil.

“Kami mengetahui laporan bahwa pesawat F-35 AS melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara regional setelah menjalankan misi tempur di Iran. Pesawat mendarat dengan aman dan pilot dalam kondisi stabil. Insiden ini masih dalam penyelidikan,” ujar Hawkins dalam pernyataannya yang dikutip Al Jazeera.

Sementara laporan CNN yang mengutip dua sumber anonim menyebut pesawat bernilai sekitar 100 juta dolar AS (setara Rp1,6892 triliun) itu kemungkinan terkena serangan dari Iran. Namun hingga kini, pihak militer AS belum mengonfirmasi penyebab pasti pendaratan darurat tersebut.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menargetkan pesawat militer AS yang menyerang wilayahnya. Tapi klaim ini juga belum diverifikasi secara independen.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, AS dilaporkan telah kehilangan sekitar 12 unit drone tempur MQ-9 Reaper. Selain itu, lima pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135 Stratotanker disebut mengalami kerusakan akibat serangan rudal Iran di pangkalan militer di Arab Saudi, meski laporan ini belum terverifikasi.

Adapun jet tempur F-35 telah digunakan dalam operasi tempur sejak 2018, dan belum ada kasus yang terkonfirmasi sebelumnya terkait pesawat ini terkena tembakan musuh.

Insiden lain terjadi pada 1 Maret, ketika tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik AS ditembak jatuh akibat salah sasaran (friendly fire) oleh pesawat F/A-18 Hornet milik Kuwait. Seluruh enam awak disebut berhasil menyelamatkan diri dan telah dievakuasi.

Dalam konflik yang berlangsung sejak 28 Februari, sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan meninggal dan sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka. Sementara itu, di Iran, otoritas kesehatan setempat mencatat sedikitnya 1.444 orang meninggal dan 18.551 lainnya terluka sejak awal konflik.

Pete Hegseth Menteri Pertahanan AS menegaskan bahwa tujuan militer negaranya dalam konflik melawan Iran tidak berubah sejak operasi dimulai. AS dilaporkan telah menyerang sekitar 7.000 target di dalam wilayah Iran, termasuk lebih dari 40 kapal penebar ranjau laut serta 11 kapal selam.

“Tujuan kami, yang diberikan langsung oleh (Trump) presiden dengan kebijakan America First, tetap sama seperti hari pertama,” ujar Hegseth.

Ia menyebut target utama meliputi penghancuran peluncur rudal Iran, melemahkan industri pertahanan dan kekuatan angkatan lautnya, serta mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, ia menegaskan belum ada batas waktu pasti untuk mengakhiri operasi militer tersebut.

Donald Trump Presiden AS sendiri juga menyatakan tidak berencana menambah pasukan di kawasan. Meski demikian, ia enggan membeberkan detail lebih lanjut jika kebijakan tersebut berubah.

Sementara itu, Dan Caine Ketua Kepala Staf Gabungan AS mengatakan operasi militer masih berjalan sesuai rencana dan serangan kini menjangkau wilayah Iran yang lebih dalam.

Namun ia mengakui Iran masih memiliki kemampuan rudal yang signifikan. “Mereka memasuki konflik ini dengan persenjataan yang besar,” ujar Caine. (bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Jumat, 20 Maret 2026
31o
Kurs