Selasa, 10 Februari 2026

Kemenag Jelaskan Potensi Perbedaan Awal Ramadan di Indonesia

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi - Suasana salat tarawih di Masjid Al-Akbar Surabaya pada Sabtu (8/3/2025). Foto: Dokumen suarasurabaya.net

Arsad Hidayat Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan, perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia merupakan hal yang wajar.

Menurutnya, variasi tersebut muncul akibat perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah yang digunakan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan Islam.

“Sebenarnya kalau berbeda itu biasa. Karena cara pandang, kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Arsad menjelaskan, beberapa pendekatan yang umum digunakan meliputi metode hisab, rukyatul hilal, hingga pendekatan terbaru berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Ia mencontohkan perbedaan antara hilal lokal dan hilal global, seperti yang dikemukakan Profesor Thomas Djamaluddin dari BRIN. “Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global, itu sudah pasti berbeda,” jelasnya.

Untuk menyikapi potensi perbedaan ini, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat sebagai forum musyawarah. Seluruh ormas Islam, termasuk Muhammadiyah, NU, dan Persis, diundang untuk menyampaikan pandangan masing-masing. Keputusan hasil sidang isbat kemudian menjadi dasar penetapan awal bulan suci Ramadhan oleh pemerintah.

“Perbedaan itu wajar dan masyarakat perlu terlatih untuk saling menghormati dan memahami,” terang Arsad dilansir dari Antara.

Berdasarkan hisab, ijtimak menjelang Ramadan 1447 H terjadi pada Selasa (17/2/2026), pukul 19.01 WIB. Posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian antara -2° 24’ 42’’ hingga -0° 58’ 47’’ serta sudut elongasi 0° 56’ 23’’ hingga 1° 53’ 36’’.

Kondisi ini belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan, seperti standar MABIMS, sehingga hilal secara teoritis belum terlihat.

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu (18/2/2026).

Keputusan ini berdasarkan hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid yang mengacu pada prinsip, syarat, dan parameter KHGT, sebagaimana tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.

Dengan berbagai metode ini, Arsad Hidayat mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga toleransi dalam menyikapi perbedaan awal Ramadhan, sehingga semangat ibadah tetap berjalan harmonis. (ant/lea/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 10 Februari 2026
23o
Kurs