Abdul Mu’ti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) menyampaikan baru sekitar 25 persen sekolah di Indonesia yang sudah mengarahkan coding dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk dimasukkan mata pelajaran pilihan.
“Dalam data kami, baru ada 25 persen sekolah yang mengajarkan coding dan AI,” kata Abdul Mu’ti dalam acara Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/10/2026), dilansir Antara.
Ia menjelaskan Kemendikdasmen memberi ruang untuk pembelajaran coding dan AI dari kelas 5 sekolah dasar (SD) sampai sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).
Kebijakan itu bertujuan agar memperdalam pengenalan teknologi digital dan kecerdasan buatan kepada murid sejak pendidikan dasar.
Meski demikian, pelaksanaan kebijakan itu membutuhkan kesiapan guru, terutama dengan adanya pelatihan tenaga pendidik agar mampu mengajarkan materi itu sesuai jenjang.
Abdul Mu’ti mengatakan peningkatan kualitas guru menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan berbagai kebijakan prioritas Kemendikdasmen.
Karena itu, pihaknya membutuhkan dukungan perguruan tinggi untuk memperkuat kompetensi tenaga pendidik melalui program pelatihan.
“Kami ingin mendapatkan dukungan dari Bapak, Ibu sekalian, para pimpinan perguruan tinggi agar guru kami lebih berkualitas. Oleh karena itu, berbagai pelatihan tentu harus banyak kita laksanakan,” ujarnya.
Selain coding dan AI, Kemendikdasmen juga memprioritaskan pengembangan STEM, yakni sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Kebijakan itu bertujuan agar meningkatkan minat murid terhadap bidang-bidang yang dibutuhkan dalam pengembangan sumber daya manusia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia menjelaskan pemerintah mengembangkan pendekatan STEM 5M, yaitu mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Pendekatan itu diharapkan membuat pembelajaran sains dan matematika lebih mudah dipahami serta tidak dianggap sebagai bidang yang menakutkan oleh murid.
Kemendikdasmen juga menjalankan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) dan penguatan pendidikan karakter melalui bimbingan konseling.
Selain itu, Bahasa Inggris direncanakan menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028.
Abdul Mu’ti menekankan peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan secara terpisah antara pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.
Menurut dia, ketiga jenjang tersebut perlu membangun ekosistem yang saling memperkuat, termasuk melalui peningkatan kualitas guru dan proses pembelajaran di kelas.(ant/fia/bil/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

