Selasa, 13 Januari 2026

Keracunan MBG Terus Berulang, Ahli Gizi Desak Evaluasi Menyeluruh

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ratusan murid dari jenjang PAUD hingga SMA mengalami keracunan diduga karena mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Istimewa

Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di beberapa daerah, termasuk menimpa ratusan murid jenjang PAUD hingga SMA di Kabupaten Mojokerto.

Lailatul Muniroh Ahil Gizi dari Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menilai, keracunan yang terus berulang menunjukkan lemahnya rantai pengelolaan MBG, mulai dari teknis pengelolahan, standar higienitas, sistem kontrol hingga distribusi.

“Ini bukan kejadian pertama, tapi sudah berulang kali. Harusnya perlu dievaluasi secara nasional. Jadi bukan seperti klaim yang 99 persen berhasil itu dari mana datanya kan begitu ya,” katanya saat dihubungi suarasurabaya.net pada Selasa (13/1/2026).

Laila mengatakan bahwa pelaksanaan MBG di lapangan nyatanya tidak semuanya baik-baik saja. Hal itu terbukti dengan masih adanya kasus dugaan karacunan yang berulang hingga tahun 2026.

“Padahal sudah satu tahun berjalan. Maksudnya kan satu tahun itu kan bukan waktu yang singkat. Artinya bisa dilakukan evaluasi dari sejak kejadian pertama sampai kemudian terus-terus terjadi,” ucapnya.

Menurutnya, tidak wajar jika kasus tersebut kembali terulang hingga 2026. Sehingga perlu investigasi dan evaluasi menyeluruh, termasuk dilakukan juga penyelidikan untuk mengetahui apa penyebab pastinya.

“Penyebabnya itu kan bukan hanya sekedar makanan yang buruk, yang mungkin terkontaminasi bakteri atau bagaimana ya entah itu dalam pengelolaannya, penyimpanannya, atau bahkan dalam distribusinya yang tidak higienis. Bisa jadi itu, bisa jadi juga karena adanya jeda waktu panjang antara makanan itu disiapkan dan dikonsumsi, nah itu kan juga ada risiko di situ pertumbuhan bakteri,” ucapnya.

Dengan kondisi itu, ia menekankan perlunya tanggung jawab pemerintah, termasuk dalam proses pengelolaan dan pengawasannya, apakah sudah berjalan sesuai SOP.

“Kemudian juga kita bisa melihat, apakah ada semacam pendidikan atau sertifikasi bagi pengelola makanannya, itu ada atau enggak. Terus juga pengawasan, terutama dalam rantai distribusinya ataupun dalam penyimpanan makanan sampai penyajiannya di sekolah. Jadi butuh investigasi yang menyeluruh,” bebernya.

Dengan investigasi menyeluruh, ia mengatakan bahwa akar masalahnya akan bisa diketahui dan dijadikan evaluasi, agar ke depan pelaksanaan tidak memakan korban lagi dan bisa memberi manfaat sesuai tujuan awalnya.

“Akar masalahnya ini yang belum diungkap, ini yang belum dipublikasikan secara transparan, apa akar masalah dari kejadian yang terus-terus berulang seperti ini. Jadi harus investigasi menyeluruh, peninjuan SOP, standar gizinya, kemudian juga edukasi,” tandasnya. (ris/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 13 Januari 2026
27o
Kurs